Vol.1 Ch.5 Asal Usul si Maniak Ledakan

BAGIAN PERTAMA

Di dalam rumahku yang sempit dan reyot, terdengar suara seseorang yang mencari sesuatu dengan kasarnya di dalam rumahku.

Dengan kata lain, ada yang sedang mengacaukan rumahku.

Dan yang sedang melakukannya tentunya adalah seekor monster.

Dan di dalam rumah ini juga seharusnya ada—

“K… Ko-Ko… Komekko… Komekko sudah—”

“Me-Megumin, tenanglah! Te-Te-Te-Tenang dulu, ok!?”

Yunyun memegang lalu mengguncang pundakku, sementara aku bahkan tidak bisa berdiri tegak di depan pintu rumahku yang sudah hancur.

“……Komekkoooooo!!”

“Tenang!! Megumin, tenanglah!!”

Ucapan Yunyun membuatku sadar dari rasa terkejutku. Otakku mulai kembali bekerja dengan cepat.

Ya, dalam situasi seperti ini aku harus berpikir dengan kepala dingin.

“Tidak masalah! Adikku adalah reinkarnasi Dewa Keserakahan, Ashtoreth! Saat dia sedang dalam bahaya, segel yang ada di dalam dirinya akan terlepas, dan akhirnya dia akan bisa menguasai dunia bersamaku.”

“Sudah kubilang, tenangkan dirimu, Megumin!”

*PLAK*

Setelah aku ditampar oleh Yunyun, aku bisa kembali tenang.

“Aww… Se-Sekarang bukan waktunya untuk mengatakan hal aneh seperti itu, Yunyun! Komekko seharusnya masih ada di dalam rumah! Kita sebaiknya masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkannya! Anak itu jauh lebih tahu tentang dunia ini dibandingkan aku, jadi dia tidak akan bisa semudah itu dimakan oleh monster! Ayo, jangan bengong mulu, kita masuk!”

“…Ke-Kenapa kamu tiba-tiba bisa berpikir positif seperti itu…”

Yunyun mengikutiku dari belakang lalu mengeluarkan belati yang ada di pinggangnya sambil menggumamkan sesuatu. Belati perak itu bersinar dalam kegelapan.

“Perilaku aneh Yunyun cuma bisa diandalkan pada situasi seperti ini. Soalnya, aku tidak punya senjata, jadi kamu yang harus bertindak di saat-saat genting, ok?”

“Aneh!? Apa maksudmu aneh!? Hei, memangnya aku melakukan hal yang aneh!?”

“Bukan aneh sih— Cuma Yunyun si aneh yang membawa belati ke sekolah karena dia menyukainya. Mau seberapa besar pun kamu menyukai belati itu, tetap saja konyol kalau kamu membawa belati ke sekolah.”

“Ugh…! A-Aku tidak bisa membalas perkataanmu… Memang benar sih! Tapi, apa yang sedang terjadi? Sejak tadi aku punya firasat buruk…!”

Aku menaruh jari telunjukku di depan bibirku, memberi tahu Yunyun yang dari tadi berisik. Aku mulai menyelinap masuk ke dalam rumah, aku bisa mendengar suara grasak grusuk dari sana.

Tidak ada suara tangis ketakutan Komekko dari dalam rumah.

Hal terburuk yang bisa terjadi terlintas di pikiranku, tapi adikku adalah orang yang hebat jadi dia pasti tidak apa-apa— aku mencoba meyakinkan diriku supaya bisa tetap tenang…!

—Setelah melewati pintu depan, aku langsung berhadapan dengan monster itu.

Monster berwujud reptil dengan paruh burung ada tepat di depan kami.

“……Ah… AAAAAAAHHHHHHHHHYUNYUNYUNYUNYUN! YUNYUNYUN! YUNYUN!!!”

“He— Jangan mendorongku! Dan kenapa namaku jadi aneh begitu! Tunggu, hentikan!!”

“JYYAAAAAAAAAAAA—!!”

“Dia mengintimidasi kita, cuma mencoba mengintimidasi kita, Yunyun. Cepat gunakan belatimu lalu tusuk dia!”

“Meski kamu menyuruhku untuk membunuh monster itu, tapi aku…!”

Monster itu langsung memekik setelah mendengar suara keras pertengkaran kami.

Yunyun memaksa dirinya untuk melakukan kuda-kuda dengan belati peraknya, tapi tidak ada kekuatan dalam dirinya. Pipinya tidak bisa berhenti gemetar, seakan dia bisa saja menangis saat itu juga.

Monster itu sepertinya berpikir kalau Yunyun cuma lawan kecil, dia lalu merentangkan tangannya, mencoba menangkap kami—!

“Sekarang!”

Aku mendorong keras Yunyun. Perut monster itu tertusuk belati Yunyun dan langsung berteriak kesakitan.

“HIGYAAAAAAAAA!”

“KYAAAAAAAAAA!”

Yunyun ikut menjerit saat dia menusuk monster itu.

Aku mengambil belati itu dari Yunyun yang masih berteriak lalu mendekati monster yang terluka tadi yang sedang berguling-guling di depan pintu. Sambil memegang belati dengan kedua tanganku, aku menusuk leher monster itu.

“Wa… UWAAAAAHHH!! Megumin!! Me-Megumin!!”

“Ka-Kamu berisik tahu, Yunyun! Kita adalah Klan Iblis Merah yang ditakuti raja iblis. Kenapa kamu harus takut membasmi mon… ster…?”

…………?

Ada sesuatu yang aneh dengan monster yang barusan aku tusuk.

Atau lebih tepatnya…

“……Dia lenyap?”

“Ke-Kenapa?”

Setelah aku menusuk lehernya, monster itu sempat sekarat selama beberapa saat, tapi kemudian lenyap dalam gumpalan asap hitam.

Kenapa mayatnya lenyap?

Pada saat itu, aku kembali sadar bila keadaan rumah kembali sunyi.

Sepertinya cuma ada seekor monster yang mengacak-acak rumahku, yaitu monster yang tadi mati lalu lenyap seketika.

Tapi, seharusnya ada banyak monster yang datang dari arah rumahku.

Dan kenapa monster itu mencari ke dalam rumah keluarga miskin yang tidak punya banyak persediaan makanan ini?

Tidak, hal yang paling penting sekarang adalah—!

“…..Benar juga, Komekko! Komekko, kamu di mana!? Ini aku, kakakmu!”

“Ko-Komekko! Komekko, kamu di mana!?”

Yunyun dan aku mencari di dalam rumah, tapi Komekko tidak muncul ataupun menjawab panggilan kami.

Setelah dilihat baik-baik, tidak ada noda darah di dalam rumah.

Artinya dia mungkin melarikan diri dari rumah.

Atau ditangkap oleh monster-monster itu…

“Yunyun, dia ada di luar! Adikku pasti ada di luar sana! Aku akan pergi mencari adikku. Yunyun, kamu tetap diam di sini kalau-kalau adikku kembali ke rumah. Buat penghalang menggunakan pintu yang sudah hancur itu dan perabotan rumah yang ada. Ah, pinjamkan aku belati itu.”

Ucapku sambil berjalan ke arah pintu. Yunyun tiba-tiba saja menarik kerah bajuku.

“Ja-Jangan pergi! Kalau Megumin yang tidak punya reflek pergi sendirian, kamu hanya akan jadi santapan mereka! Aku juga akan ikut bersamamu!”

Ahh…

“Kamu jadi sok begitu cuma karena kebetulan menang satu pertandingan denganku. Baiklah, kita pergi bersama. Tapi, kalau ada monster yang datang, Yunyun sendiri yang harus mengurusnya.”

“Ehh!? Ka-Kalau soal itu… sih…”

Kami terus mengoceh sambil berjalan keluar dari rumahku…

—Berjalan ke arah seekor monster yang merobek tas sekolah yang aku tinggalkan di luar.

“Kuro—! Kalau tidak salah kamu menaruh Kuro di dalam tas sekolahmu ‘kan!?”

Yunyun langsung berteriak histeris. Monster yang sedang mengoyak tas sekolahku menyadari keberadaan kami.

“Bo-Bola berbulu itu pasti sudah tidak bisa kita tolong, jadi menyerah saja untuk menyelamatkannya! Dia mengorbankan nyawanya demi kita, aku janji akan membuatkan batu nisan untuknya! Tidak masalah, bola berbulu itu akan selalu bersama kita. Ya, dia akan selalu hidup di dalam hati kita…!”

“Dia masih hidup tahu! Lihat baik-baik, kucing kecil itu masih hidup! Kamu terlalu cepat putus asa!!”

Ucap Yunyun sambil menunjuk ke arah tas sekolahku, dia menarik kerah bajuku sementara aku mencoba lari dari monster itu.

Memang, Kuro diam-diam mencoba menyelinap keluar dari dalam tas sekolahku.

Tetapi, monster itu tidak melukai Kuro yang merangkak keluar dari dalam tasku. Monster itu hanya memandangnya tanpa melakukan apa pun.

Selain itu, monster itu sudah sejak dari tadi menyadari keberadaan kami, tapi sepertinya dia tidak peduli dengan kehadiran kami.

“Bagaimanapun juga, ini adalah kesempatan langka! Bola berbulu itu pasti sudah menyulut insting protektif monster itu! Kita sebaiknya mencari kesempatan untuk lari lalu mencari adikku…!”

“Tunggu! Aku tahu kamu khawatir dengan Komekko, tapi kumohon, selamatkanlah Kuro juga!”

“Apa yang kamu katakan? Kalau kita mengambil Kuro dari monster yang sangat terobsesi dengannya itu, monster itu akan mengejar kita! Aku punya firasat seperti itu!”

Setelah mendengar perkataanku, Yunyun menunjukan ekspresi seperti anak yang ingin memancing orang tuanya supaya dia boleh memelihara anjing yang dibuang pemiliknya.

……Ahh, menyebalkan!

“Bersiap untuk lari, ok? Aku akan mengambil bola berbulu yang dengan rajinnya selalu diberi makan oleh adikku!”

Tentu saja, dia diberi makan secara “rajin” supaya bisa dijadikan persediaan makanan darurat— Tapi, lebih baik tidak perlu memberitahu Yunyun tentang hal itu.

Ekspresi Yunyun langsung mekar seperti bunga. Aku memegang belati sambil berputar membelakangi monster itu…

—Di saat yang bersamaan, monster itu mulai bergerak.

Monster itu mengambil Kuro dengan cakarnya lalu menggunakan kedua tangannya untuk membawanya pergi.

Kuro sama sekali tidak berusaha memberontak. Dia nampak sangat jinak pada monster yang membawanya itu.

Saat monster itu mau melebarkan sayapnya untuk terbang ke angkasa…!

“Adikku sangat ingin melihat kucing itu tumbuh besar! Kalau bola berbulu itu dicuri, adikku akan membenciku! Rasakan kemampuan melempar senjataku!”

“HYAAAHHH!”

Aku mengeluarkan kekuatanku untuk melempar belati itu yang justru meluncur entah ke arah mana.

“…Tidak bisa kupercaya. Monster itu bahkan dilindungi oleh perisai angin…”

“Tidak ada perisai! Mau bagaimanapun aku melihatnya, Megumin sendiri yang tidak becus melempar belati!”

“Sekarang bukan waktunya kita mempermasalahkan hal kecil seperti itu! Kuro…!”

“Benar! Apa yang Megumin katakan memang benar! Tapi, aku sejak tadi terus merasakan firasat buruk ini—!”

Selagi kami bertengkar, monster itu membawa Kuro lalu terbang pergi entah kemana…

—Melihat Kuro dibawa lari oleh monster itu, aku mengatakan sesuatu dengan suara kecil… hal yang tidak biasa kulakukan.

“…Bola berbulu itu pasti pembawa pesan dari surga. Dia hanya pulang ke tempat dia berasal. Jadi, berhentilah menangis, kita harus menerima kepergiannya…!”

“Jangan seenaknya menambahkan cerita aneh dan membiarkan Kuro mati! Gimana nih, Kuro diculik oleh mereka! Monster itu pasti membawanya ke sarang mereka untuk mereka makan! Apa yang harus kita lakukan!!??”

Ucap Yunyun dengan wajah seperti orang yang sudah mau menangis sambil mengambil kembali belati miliknya.

“Hmm, tenang dulu. Kuro sama sekali tidak memberontak saat dia dibawa oleh monster itu, jadi seharusnya dia akan baik-baik saja. Bola berbulu itu sudah menerima gaya hidup sengsara ala keluargaku, jadi dia bisa tahu jika ada bahaya mengancam.”

“Hei, sebenarnya bagaimana caramu mendidik kucing itu!? Apa kamu menyiksanya!?”

Ucap Yunyun sambil mengguncang-guncang pundakku.

Bagaimanapun juga, Komekko jauh lebih penting dibanding Kuro.

“Untuk sekarang, kita tinggalkan dulu Kuro. Yang lebih penting itu Komekko. Adikku itu sangat pemberani dan punya banyak pengalaman. Aku tidak membesarkannya menjadi seorang anak naif yang cengeng dan gampang mati. Saat ini dia pasti sedang bersembunyi…”

“Be-Benar juga yah! Hei, Megumin, apa kamu tahu kira-kira Komekko ada di mana?”

Tempat di mana Komekko kemungkinan pergi yah…

Mustahil kalau aku memiliki petunjuk.

Tapi, rasanya dulu ada yang pernah Komekko katakan sampai membuatku merasa sangat khawatir.

Apa yah, apa yah itu…

“Aku tidak punya bukti, tapi ada sesuatu yang membuatku khawatir. Soalnya, saat aku masih kecil, aku sama seperti Komekko.”

Aku sering diam-diam pergi keluar rumah untuk bermain, membuat orang tuaku sering memarahiku.

—Saat aku mau mengatakannya… sebuah kenangan terlintas dalam pikiranku.

Aku ingat saat aku masih kecil, aku pernah bermain dengan segel dewa jahat seakan itu adalah mainan.

“……Ah.”

“……? Ada apa, Megumin?”

Belakangan ini, saat aku bertanya pada Komekko dia bermain di mana, dia menjawab:

“Aku menemukan mainan, jadi aku selalu memainkannya! Kakak mau ikut bermain, tidak?”

……Ini…

……Jangan-jangan ini…!

“Ahh… AAAAAAHHHHHHH!! Ja-Ja-Ja-Jangan-jangan…!”

“Apa!? A-Ada apa, Megumin? Kenapa kamu tiba-tiba panik…?”

Semuanya jadi jelas. Akhirnya semuanya menjadi jelas.

Keluargaku yang miskin tidak punya mainan.

Tapi, Komekko bilang dia menemukan mainan.

Mungkin saja adikku yang imut itu menerima mainan dari tetangga, tapi kemungkinan terbesarnya adalah…!

————————————-

BAGIAN KEDUA

—Batu nisan dewa jahat dibuat di luar desa.

Disinari oleh lampu sihir, batu nisan itu memberikan hawa menyeramkan saat malam tiba.

Monster-monster terus mengitari langit. Kami akhirnya tiba di makam dewa jahat.

Monster-monster itu mengabaikan kami yang berlari ke sini. Mereka sepertinya sedang mencari sesuatu.

“Hei, Megumin, Komekko tidak mungkin melarikan diri ke tempat seperti ini…”

Aku tidak menjawab ucapan Yunyun yang bernada khawatir. Kami bersembunyi di semak-semak untuk memerhatikan situasi yang ada di makam.

“……Dia di sini.”

“……Dia benar-benar ada di sini.”

Komekko memegang kepingan puzzle, berdiri di depan batu nisan itu sambil melamun. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan.

Seingatku apa yang Komekko pegang itu adalah pecahan segel dewa jahat.

Kenapa anak ini memegang benda seperti itu di tempat ini?

Selagi aku memikirkan hal itu, aku mengikuti arah pandangan Komekko…

“……Bagus, Yunyun. Bola berbulu itu juga sepertinya baik-baik saja.”

“Kenapa kamu bisa tenang!? Bukannya situasi seperti ini sangat berbahaya!?”

Komekko, yang sedang memegang kepingan puzzle, menghadap kearah monster yang membawa Kuro.

“Hei, a-a-a-apa yang harus kita lakukan!? Selain itu, orang-orang dewasa dari desa sedang ada di mana, sih!?”

“Dengan situasi yang seperti ini, sepertinya monster lain tidak akan muncul dari makam ini. Orang-orang dewasa pasti sudah memastikan hal ini dan langsung berpencar untuk membasmi monster yang ada di desa.”

Sejak tadi, para penduduk desa mulai menembakkan sihir berbagai warna ke langit.

Kalau situasinya tidak seperti ini, kami pasti akan sedang menonton “kembang api” lewat jendela rumahku bersama Komekko dan Yunyun.

“Pokoknya tenang dulu. Seperti yang kamu lihat, cuma ada satu musuh di depan kita yang sedang memusatkan perhatiannya pada Komekko. Semuanya akan berjalan lancar selama kita mendekati mereka dengan hati-hati. Soalnya, kita sudah berhasil membunuh satu monster.”

“Be-Benar juga. Kamu sudah memikirkannya matang-matang.”

Yunyun mulai kembali tenang sambil melirik ke arahku.

Kemudian, Komekko menaruh pecahan puzzle itu di atas tanah, lalu tiba-tiba saja mengangkat kedua tangannya ke arah monster itu.

“……Apa yang sedang Komekko lakukan?”

“Mungkin dia sedang mencoba menakuti monster itu. Sepertinya dia ingin mengambil Kuro dari genggaman monster itu.”

Berhadapan dengan Komekko yang perlahan mendekatinya, monster itu mulai mundur, menjauhi Komekko.

Bahkan Kuro yang dibawa oleh monster itu juga mulai gemetar ketakutan.

“Sepertinya monster itu mulai tertekan oleh Komekko. Meski aku ingin melihat akan seperti apa kelanjutannya… Ayo, Yunyun. Aku akan memercayakanmu sebagai umpan.”

“Ba-Baik… Hei, tunggu dulu! Kenapa aku yang jadi umpan!?”

“Yunyun yang pengecut mana mungkin bisa membunuh monster itu dengan sekali serang, ‘kan? Jadi, pinjamkan belati itu padaku… Aku tidak akan melemparnya lagi kok. Cepat berikan padaku!”

“Ga-Gak mau! Kali ini aku akan menyerangnya, jadi Megumin saja yang jadi umpan…! Eh? Ahhh!!”

Selagi kami saling memperebutkan belati Yunyun, dia tiba-tiba saja melihat ke atas langit dan langsung berteriak.

Setelah kulihat lebih jeli, ada 5 monster yang turun dari langit di dekat Komekko.

“Ti-Ti-Ti-Ti-Tidak akan apa-apa, ‘kan!? Megumin pasti sudah memikirkan rencana lain, ‘kan!?”

“Tentu saja, di saat genting seperti ini, pastilah kekuatan tersembunyi akan bangkit, atau seseorang akan datang menyelamatkan kita. Maka dari itu, kita hanya perlu bergidik sambil berteriak ketakutan seperti gadis yang tidak mau dibunuh…”

“Kamu ngomong apa sih, Megumin!? Dan kamu melihat ke mana? Tatapanmu juga jadi kosong! Hei, apa jangan-jangan kamu tidak bisa menghadapi bahaya yang tidak terduga!?”

Komekko tidak sadar akan kehadiranku yang mulai mencoba lari dari kenyataan. Dia mulai berteriak menakut-nakuti monster yang mengelilinginya.

“GISHAAHH!!”

“—Hei, Megumin. Apa Komekko sungguh akan baik-baik saja!? Anak itu mencoba bertarung melawan monster yang sebanyak itu! Selain itu, kenapa dia sama sekali tidak takut, yang ada justru monster-monster itu yang ketakutan!”

Adikku mungkin saja adalah orang yang hebat.

Selain Kuro yang memang menganggapnya sebagai musuh bebuyutan, kenapa para monster itu takut padanya?

Mereka seperti ketularan rasa takut Kuro.

“Pokoknya, kita tidak bisa terus diam! ……Aku sangat tidak ingin melakukan hal ini…”

Aku mengeluarkan senjata pamungkasku dari kantungku.

Melihatnya, Yunyun berkata:

“Kartu Petualang? …Ah!? Megumin, kami mau…!”

—Benar. Aku harus memilih mana yang tidak lebih buruk bagiku.

Kalau aku harus memilih antara nyawa adikku dan Sihir Ledakan, maka tentu saja—!

“Hentikan!”

Komekko dan para monster melihat ke arahku.

Aku memegang kartu petualangku, melompat keluar dari semak-semak.

“Diriku bernama Megumin! Orang paling jenius di Klan Iblis Merah yang menguasai sihir tingkat lanjut! Jangan kalian berani mendekati adikku!”

“Ah, kakak! Mereka mengambil makananku!”

“Komekko!? Makanan apa!? Maksudmu Kuro!?”

Mereka berdua langsung menghancurkan perkenalan diriku yang keren!

Yunyun memegang belatinya kemudian muncul setelahku.

“…Hei, Megumin, kamu benar-benar mau mempelajari sihir tingkat lanjut? Tapi, kamu kan sangat menyukai Sihir Ledakan…”

“Jenius sepertiku bisa dengan mudah mendapatkan semua poin yang terbuang ini dengan berburu banyak monster. Mau seberapa lama pun itu— Meski harus menghabiskan waktu bertahun-tahun, aku tidak akan menyerah demi Sihir Ledakan!”

……Aku mengatakannya, tetapi hatiku masih terasa berat.

Meski aku perlu menghadapi monster-monster itu sekarang.

Para monster itu mengganti target mereka, mereka perlahan mendekat dan mulai mengelilingi kami.

Salah satu di antara mereka melebarkan sayapnya, berniat menyerang kami dari langit.

—Tanganku bergetar sambil menggenggam erat kartu petualangku.

Mau bagaimanapun juga, ini adalah impianku sejak dari kecil. Tidak mudah bagiku untuk berhenti mengejar mimpi ini begitu saja.

Tapi, tidak ada cara lain untuk menyelamatkan adikku.

……Tidak masalah. Aku hanya perlu bekerja lebih keras lagi dari sekarang.

Aku meyakinkan diriku lalu mengambil kartu petualangku—!

“Suara dan tubuhmu gemetar terus. Kamu tidak ingin melakukannya, ‘kan?”

Yunyun menaruh kembali belatinya di pinggangnya.

Dia memegang kartu petualangnya seperti aku.

“Apa yang mau kamu—”

—lakukan?

Saat aku mau menyelesaikan ucapanku…

Lightning—!”

Perkataanku terpotong oleh ucapan mantra Yunyun.

———————————

BAGIAN KETIGA

Aku mengikuti lampu jalanan yang bagai bintang, berlari sambil menggenggam tangan Komekko.

“Kak, Yunyun kuat sekali lho! Petirnya tadi langsung jadi ‘DOAAARR—’!”

Mungkin karena dia terlalu bersemangat, Komekko menggenggam tanganku dengan sangat erat.

“Iya, dia sangat kuat. Tapi, dengan begini Yunyun sudah berhasil mendahuluiku! Aku kira dia tidak akan bisa apa-apa dan hanya bisa menonton saja…!”

Keluhku pada Komekko sambil berlari mencari orang dewasa dari desa.

—Yunyun mempelajari sihir tingkat menengah.

Setelah mempelajarinya, itu artinya dia telah lulus dari sekolah.

Yang berarti dia tidak bisa menikmati hak sebagai anggota Klan Iblis Merah yang masih dalam masa didik — cara mudah untuk mendapatkan Ramuan Penambah Skill Point yang langka.

Bila Yunyun memutuskan untuk mempelajari sihir tingkat lanjut, dia harus bertarung melawan monster untuk mendapatkan experience dan menaikkan levelnya.

Mempelajari sihir tingkat menengah memakan 10 skill point.

Untuk mendapatkan kembali skill point tersebut, dia harus meningkatkan levelnya sesuai dengan skill point yang dia habiskan.

Dan juga, semakin tinggi levelmu, semakin sulit untuk naik ke level berikutnya.

Yunyun yang masih berlevel rendah seharusnya bisa dengan cepat menaikkan levelnya.

Tapi, mau seberapa cepat pun itu, pasti perlu setidaknya 1 tahun untuk naik 10 level.

Selama satu tahun ke depan, rivalku sepertinya akan dianggap sebagai anggota Klan Iblis Merah yang tidak berguna.

Meski dia sudah berusaha sangat keras sebagai putri kepala klan dan selalu mendapatkan hasil yang bagus…

“Kak, apa kakak menangis?”

“Aku tidak menangis! Aku cuma kesal dan membuat mana-ku mengalir dari mataku!”

Yunyun menggunakan sihir petir untuk menyerang kepala monster yang memegang Kuro, dia lalu berkata:

—Aku akan menyelamatkan Kuro. Kamu cepat bawa Komekko pergi dan cari orang dewasa dari desa—

Karena aku tidak bisa memutuskan apakah aku harus mempelajari sihir tingkat lanjut, Yunyun harus lulus dan tidak menjadi penyihir pemula lagi.

Dan anak yang tidak suka membunuh itu, rupanya bisa melepaskan sihir tanpa banyak pikir panjang seperti itu.

Meski dia biasanya canggung, dia akan selalu siap melindungi orang yang membutuhkan.

Sosok rivalku itu nampak begitu menyilaukan—

“…? Kakak kenapa? Terlalu capek untuk lari?”

Komekko merasa bingung saat dia melirik kearahku yang tiba-tiba saja berhenti berlari.

Orang yang mengaku sebagai rivalku itu sedang bertarung melawan monster sendirian.

Dia yang tidak pernah menang melawanku.

Dia adalah orang yang kesepian dan tidak punya teman dan selalu saja memaksaku.

—Kalau aku melarikan diri demi meraih impianku, aku tidak akan pernah berhak bertanding kembali dengannya.

“Komekko, apa kamu sayang pada kakakmu?”

“Sayang!”

Jawab Komekko dengan senyum di wajahnya.

“……Meski jika kakak tidak bisa menggunakan sihir terkuat dan tidak bisa menjadi penyihir terkuat?”

“Aku akan menggantikan kakak untuk melakukannya, jadi tidak masalah!”

Jawab Komekko masih dengan senyum di wajahnya.

Meski masih kecil, dia sudah berniat untuk menjadi yang paling kuat. Pasti, dia akan menjadi orang yang hebat.

“……Komekko, aku akan pergi menyelamatkan Yunyun, jadi kamu…”

Sambil mengatakan itu, aku menengadah ke atas langit, mencari lokasi pertarungan yang paling dekat.

Ada beberapa kilatan cahaya yang melesat di dekat sini.

Aku berjongkok untuk menyamakan tinggiku dengan Komekko.

“Larilah ke arah cahaya itu berasal. Orang dewasa dari desa seharusnya ada di sana. Monster-monster terbang itu sepertinya sedang mencari sesuatu, sehingga mereka tidak akan berusaha melukaimu. Untuk seseorang yang bisa dengan selamat pergi ke makam di tengah kekacauan ini, kamu pasti akan baik-baik saja. Jangan dekati lampu jalan atau yang semacamnya supaya kamu tidak kelihatan mencolok, dan diam-diam—”

“Nggak mau! Aku mau tetap sama kakak!”

“……Dengar baik-baik, aku akan pergi bertarung, tapi mau seberapa kuat atau kerennya diriku, aku tetap saja bisa kalah. Jadi—”

Selagi aku mencoba meyakinkannya, adikku mengepalkan tangannya lalu berkata dengan suara lantang:

“Aku juga mau bertarung! Aku akan mengambil makananku yang mereka curi!”

Dia mengatakan kata-kata yang mengkhawatirkan, tetapi juga terdengar bisa diandalkan itu.

—Aku membalikkan badanku dan berkali-kali menyuruh adikku.

“Dengar baik-baik! Kamu tidak boleh pergi jauh dariku!”

“Siap!”

“Jangan menyerang monster yang membawa Kuro! Aku akan membantumu merebut kembali Kuro! Mengerti?”

“Siap! Aku akan mencoba untuk tidak menyerangnya!

“Bukan mencoba, tapi tidak akan!”

“Mengerti!”

Apa benar tidak apa-apa, yah? Sejujurnya, aku merasa khawatir…

Tapi, mencoba mengusir Komekko yang keras kepala akan jauh lebih berbahaya.

……Aku sudah membuat keputusanku.

Aku tidak akan menyerah untuk mempelajari Sihir Ledakan. Meski jika aku harus menghabiskan waktu bertahun-tahun bahkan hingga puluhan tahun, aku pasti akan mempelajarinya.

Aku cuma mengambil jalan yang sedikit lebih panjang.

Ya, hanya sedikit—

————————————–

BAGIAN KEEMPAT

Blade of Wind!”

Yunyun berteriak lalu menebaskan tangannya, menciptakan hembusan angin yang kencang.

Angin itu menjadi pedang dan memotong salah satu monster yang terbang di langit.

Biasanya, sihir tingkat menengah tidak memiliki kekuatan sebesar itu.

Ini pasti karena kekuatan sihir Yunyun yang pada dasarnya memang kuat. Dia benar-benar orang yang kekuatannya hanya berada di bawahku.

Saat kami kembali ke tempat tadi, kami melihat Yunyun bertarung dengan sekuat tenaganya.

“Kak, apa Kakak tidak akan ke sana?”

“Tunggu dulu, Komekko. Kakakmu yang cerdik ini tiba-tiba saja menyadari sesuatu. Kakak tidak perlu mempelajari sihir tingkat lanjut. Kita cuma perlu bertahan dari semua ini.

Ucapku sambil menonton pertarungan ini.

……Aku tidaklah mundur dari keputusanku.

Bila sihir tingkat menengah saja sudah cukup untuk bertarung melawan monster-monster itu seperti yang sedang Yunyun lakukan, kenapa aku harus membuang point-ku untuk mempelajari sihir tingkat lanjut?

Yunyun sudah berhasil mengungguli mereka.

Karena monster-monster itu tidak menjadi mayat setelah terbunuh, mustahil untuk mematiskan seberapa banyak yang sudah Yunyun habisi. Tapi saat sebelumnya aku melarikan diri, seharusnya ada 6 monster di sini.

Sekarang hanya tersisa satu ekor saja.

Yunyun berdiri menghadap monster itu, melindungi Kuro yang ada di dekat kakinya.

“……Tapi ini benar-benar mengerikan. Yunyun bisa saja mengalahkan semua monster itu.”

“? Bukannya bagus kalau Yunyun bisa mengalahkan mereka semua?”

“Tentu saja tidak. Kalau sampai begitu, keputusanku untuk kembali ke sini bisa-bisa…”

Pada saat itu,

Harapanku terkabul. 7 monster turun dari langit malam.

Bagus, aku akan muncul dengan kerennya lalu menyelamatkannya, membalas semua yang telah dia lakukan!

“Diriku—”

“Diriku bernama Komekko! Menjaga rumah ialah tugasku. Aku adalah Adik Gadis Nakal Nomor Satu Klan Iblis Merah!”

Komekko mengganggu perkenalanku dan tampil lebih dulu.

“Komekko! Kamu itu… Kenapa kamu selalu saja mengganggu kehadiranku yang keren!”

“Aku nggak akan minta maaf!”

“Ko-Komekko!”

“Hei! Kenapa kalian berdua masih ada di sini!? Kan sudah kubilang cepat lari!”

Yunyun langsung memusatkan perhatiannya pada monster yang menyerangnya sambil berteriak pada kami.

Aku langsung berkata padanya:

“Kamu kira aku akan membiarkan diriku ini berhutang budi pada orang yang mengaku sebagai rivalku lalu lari begitu saja!?”

“Sudah waktunya kamu berhenti menambahkan ‘mengaku’ itu! Soalnya, setelah mempelajari sihir sekarang aku adalah penyihir sungguhan! Aku berbeda dari Megumin yang cuma penyihir jadi-jadian!”

“Ja-Jadi-Jadian!? Da-dasar penyihir tingkat menengah!”

“Jangan panggil aku ‘penyihir tingkat menengah’ seakan aku itu cuma anggota Klan Iblis Merah yang masih di bawah rata-rata!”

Sementara kami berdebat panas, salah satu monster yang barusan muncul tiba-tiba saja mau menyerang Yunyun.

Meski dia sedang mengoceh denganku, Yunyun masih sempat memerhatikan pergerakan musuhnya. Dia memungut Kuro lalu berguling untuk menghindari serangan monster itu.

Kemudian, dia mengeluarkan belatinya dengan tangannya yang lain lalu melemparnya pada monster tadi.

Mungkin ini cuma keberuntungan, tapi belati Yunyun tepat menusuk leher monster itu.

“HYUUUUHH—!”

Monster yang tertusuk itu memekik seperti peluit, lalu tumbang sambil memegangi lehernya. Dia kemudian lenyap dalam gumpalan asap hitam.

Melihat hal itu, monster yang masih tersisa mulai menyerang Yunyun!

“Sepertinya kamu sedang dalam bahaya, Yunyun si penyihir tingkat menengah! Sekarang waktunya untuk si penyihir tingkat atas, Megumin, menghabisi sampah-sampah itu!”

“Eh!? Megumin, apa maksud perkatanmu barusan!? Memangnya menurutmu kenapa aku mempelajari sihir tingkat menengah…!”

Yunyun segera kembali berdiri lalu mengangkat satu tangannya.

“Mulai sekarang, aku tidak akan menambahkan ‘mengaku’ lagi. Aku akan menganggapmu sebagai rivalku yang sesungguhnya! Dan aku tidak ingin berhutang budi pada rivalku! Memangnya apa sih yang kamu pikirkan? Kamu mau lulus duluan dan merenggangkan hubungan kita? Kamu bilang kamu mau lulus bersamaku, dengan begini sekarang kita bisa…!”

Fire Ball!!”

“Eh!? Tunggu dulu…!!”

Yunyun tidak mendengarkan ucapanku sampai selesai. Dia melepaskan sebuah bola api pada musuh yang siap menyerangnya.

Sihir barusan pasti dia lepaskan dengan seluruh mananya.

Monster-monster itu terkena serangan bola api itu, menciptakan sebuah ledakan besar yang tidak akan seorang pun kira bila itu adalah sihir tingkat menengah. Dentuman besar bergema melintasi langit.

7 monster terjatuh dari langit, dalam sekejap langsung menjadi abu.

Di saat yang sama, setelah memastikan semua musuh sudah dikalahkan, Yunyun langsung berlutut, mungkin karena dia kehabisan mana.

Aku langsung berlari mendekatinya.

“Dengan begini… Megumin tidak perlu mempelajari sihir tingkat lanjut…!”

Ucapnya dengan wajah yang dipenuhi rasa kemenangan.

“……Kamu itu benar-benar yah… Selain itu, bukannya Yunyun tidak mau aku mempelajari Sihir Ledakan? Kenapa kamu merubah pikiranmu?”

Ucapku sambil membiarkannya bersandar pada pundakku.

“A-Aku tidak mengubah pikiranku… Sekarang pun, aku masih tidak mau kamu mempelajari Sihir Ledakan, tapi aku merasa akan sangat sayang sekali kalau kamu harus menyerah pada impianmu untuk alasan seperti ini… Se-Selain itu! Aku sangat kesusahan supaya kamu berhutang budi padaku! Aku tidak akan membiarkanmu membalasnya dengan mudah! Aku tidak punya banyak kesempatan untuk membuatmu berhutang budi padaku!”

“Kalau begitu, karena kamu tidak bisa bergerak karena kehabisan mana, kalau aku mengantarmu pulang, maka hutang budiku sudah terbayarkan, ‘kan?”

“EHH!?”

Saat aku memutuskan untuk menyeret Yunyun pulang ke rumahnya, Komekko berlari ke arah kami lalu menangkap Kuro.

Aku benar-benar berharap alasan dia menatap tajam Kuro dan matanya bersinar merah adalah karena dia senang bisa melihat Kuro tidak terluka.

“Hei, Megumin! Aku mempelajari sihir tingkat menengah untuk menolongmu, tapi kamu bilang kalau membawaku pulang ke rumah sudah cukup untuk membalasnya! Jelas tidak adil!”

“Berisik banget, sih. Kamu kan tidak bisa bergerak karena kehabisan mana. Kalau aku meninggalkanmu di sini, kamu akan di makan oleh monster lain yang akan datang, ‘kan? Dengan kata lain, aku telah menyelamatkan nyawamu… Gimana, sama saja dengan bagaimana kamu menyelamatkanku sebelumnya, ‘kan?”

“Itu jelas gak masuk akal! Aku mengorbankan nyawaku melawan monster-monster itu, tapi Megumin justru…”

Yunyun menggenggamku dengan sisa kekuatannya yang sedikit. Dia tiba-tiba saja berhenti mengeluh.

Aku mengikuti arah pandangannya dan ikut tercengang.

“Kakak, ada banyak sekali makhluk bersayap itu muncul! Hei, apa mereka bisa dimakan? Aku bisa memakan mereka tidak?”

Kami melihat sekumpulan monster yang bisa saja membawa kegelapan pada langit malam sementara Komekko terus melompat penuh rasa senang.

————————–

BAGIAN KELIMA

Sepertinya hari ini aku terlalu banyak berlari ke sana-sini.

“Me-Megumin, sakit tahu! Ujung sepatuku sudah mau habis terkelupas!”

Yunyun dengan nada sedih mengeluh di belakangku.

“Jangan egois! Aku ini kan pendek, jadi mau gimana lagi! Siapa juga yang menyuruhmu jadi setinggi ini!? Kalau memang sakit, kenapa tidak kamu angkat sendiri saja kakimu itu?”

“Kalau begitu, aku akan mengangkat kakinya Yunyun!”

Kami berlari di jalanan yang gelap bersama Komekko sambil menggendong Yunyun.

“Awawawaww! Tunggu, Komekko! Kalau kamu mengangkat kakiku seperti itu, tubuhku jadi seperti udang goreng…!”

“Apa yang kalian berdua lakukan dalam situasi genting seperti ini!? Jangan banyak bergerak, kalau tidak aku akan meninggalkanmu di sini!”

Sementara aku marah-marah, banyak monster yang terbang di langit terbang melewati kami.

……Kenapa ada banyak monster yang berkumpul di sini?

Seakan untuk menjawab pertanyaanku, cahaya sihir bersinar mencakar langit satu demi satu. Tanpa kami sadari, jumlah sihir yang kami lihat semakin bertambah.

Dengan kehadiran sihir yang digunakan oleh penduduk desa, sepertinya kami sudah semakin dekat menuju desa.

Dengan kata lain, monster-monster itu bukan berkumpul di sini, tapi disudutkan kemari.

“Sepertinya kebanyakan monster-monster itu menggunakan tempat ini untuk kembali beregu.”

“Dengan kata lain, anak buah dewa jahat mulai berkumpul di makam dewa jahat!? Kenapa para penduduk desa melakukannya… Karena ada terlalu banyak monster, jadi mereka memojokkan monster-monster itu kemari untuk menyegel semua monster itu sekaligus?”

……Rupanya begitu. Orang-orang dewasa sepertinya berniat untuk menyegel monster-monster itu sekaligus, atau cukup menggunakan sihir yang sangat kuat untuk menghancurkan mereka.

Bila benar begitu, kami sebaiknya segera pergi dari sini.

Meski situasinya benar-benar genting…

“……Yunyun, sekarang waktunya untuk mengatakan kata-kata terkenal itu. Kamu boleh mengatakan kata-kata klasik seperti ‘tinggalkan saja aku, kalian cepatlah pergi!'”

“Ja-Jangan tinggalkan aku! Megumin sendiri kan yang bilang kalau kamu akan membawaku ke rumah untuk membalas hutang budimu!”

Kenapa aku mengatakan hal tidak berguna seperti itu…!

Di tengah teriakkan mengerikan monster yang terus bergema, aku berusaha sekuat mungkin untuk menggendong Yunyun dan lari dari sini.

Meski jika aku mempelajari sihir tingkat lanjut, mustahil aku bisa menghadapi monster sebanyak ini.

Diam-diam aku berdoa supaya kami tidak terlihat oleh monster-monster itu lalu bersembunyi di balik bayangan lampu jalan.

Pada saat itu…

“Meong!”

Kuro mengeong saat dia berada dalam pelukan Komekko.

—Meski suara yang dikeluarkan Kuro tidaklah keras, tetapi monster-monster itu langsung terbang mengitar di atas kami.

Perilaku monster itu akhirnya membuatku sadar!

“Komekko! Lempar bola berbulu itu ke atas!”

“Apa yang kamu katakan!? Megumin, apa maksud perkataamu itu!?”

“Padahal aku sudah susah payah merebut kembali makananku, aku tidak bisa begitu saja membuangnya!”

“Komekko, kenapa kamu juga menolak!? Apa yang kamu katakan!?”

…Kenapa jadi seperti ini?

Kenapa aku baru menyadarinya sekarang…?

Alasan kenapa monster menyerang rumahku mungkin karena Kuro.

Saat kami sedang berlatih di luar juga.

Monster itu mengabaikan murid lain dan mengejarku yang saat itu membawa Kuro.

Belakangan ini, Komekko sering pergi bermain dengan pecahan segel dewa jahat.

Kemudian, Komekko tiba-tiba saja membawa pulang bola berbulu ini.

Di saat yang sama, para penduduk desa mulai sering memberikan laporan bila mereka melihat anak buah dewa jahat.

Hanya ada satu kemungkinan dari semua petunjuk itu—!

“Ahh, kepalaku rasanya mau pecah! Kepalakuu! Kalau aku berpikir lebih dari ini, mekanisme pertahanan diri otakku akan mulai bekerja!”

“Hei, Megumin, kamu ngelantur apaan, sih!? Berhenti lari dari kenyataan!”

Mendengar perkataan Yunyun, pikiranku kembali sadar dan mulai menilai situasi yang saat ini sedang kami hadapi.

Sepertinya semua monster terbang itu menatap ke arah kami.

Aku ingin saja meninggalkan Kuro lalu lari dari sini, tapi…

“Kak, ini kesempatan bagus! Ayo kita tangkap satu monster itu lalu kita bawa pulang!”

Dengan aura bagaikan orang hebat, Komekko membawa Kuro yang gemetar ketakutan lalu berkata dengan senyum lebar di wajahnya.

Aku hanya bisa melihat adikku yang nampak penuh percaya diri lalu menurunkan Yunyun dari gendonganku. Aku menatap ke langit lalu melihat kartu petualangku.

“Me-Megumin?”

Yunyun yang hanya bisa terduduk bertanya padaku dengan nada khawatir.

Tidak jauh dari tempat ini, berbagai macam sihir dihempaskan ke atas langit.

Aku harus mempelajari sihir tingkat lanjut untuk mengulur waktu.

Kalau aku melepaskan sihir tingkat lanjut di sini, orang-orang dewasa dari desa pasti akan segera datang kemari.

“Kakak, ada apa? Kok mata kakak berwarna lebih merah dari biasanya?”

Tentu saja mataku akan berwarna merah menyala.

Soalnya, aku tidak bisa mengendalikan emosiku.

“Yunyun, cepat lari bersama dengan Komekko.”

Aku menatap ke arah langit dan mulai mengumpulkan seluruh mana yang ada di dalam tubuhku.

Meski sebelumnya aku belum pernah menggunakan sihir, aku masih bisa mengendalikan aliran mana yang ada di dalam tubuhku karena karakteristikku sebagai seorang anggota Klan Iblis Merah.

Anak buah dewa jahat yang terbang di langit tidak mencoba turun, mungkin karena mereka berpikir bila kami menyandera Kuro.

Tapi, aku merasa mereka tidak akan diam terus. Soalnya, mereka sudah siap untuk menyerang. Sedikit saja lengah, mereka akan langsung menyerang secara bersamaan.

—Misalnya, kalau aku melepaskan suatu teknik sihir— Itu pasti akan menciptakan peluang bagi mereka untuk menyerang.

Tidak masalah. Aku sudah membulatkan tekadku.

“Me-Megumin. Aku rasa mereka sedang memperhatikan situasi kita. Kita sebaiknya menunggu orang dewasa dari desa untuk tiba di sini…!”

Aku tidak akan menyesalinya. Aku hanya perlu berusaha lebih keras lagi.

“Kakak, mata kakak…!”

Komekko memandangku dengan wajah khawatir bersama Kuro yang masih ada dalam pangkuannya.

Aku mengelus kepalanya lalu berkata padanya kalau aku baik-baik saja.

Kemudian, aku meyakinkan hatiku lalu mengeluarkan kartu petualangku untuk mempelajari sihir tingkat lanjut.

—Aku melihat kartuku dan aku hanya bisa berdiri terpaku.

Pada saat itu, aku langsung tertawa keras tanpa bisa kubendung.

“A-Ada apa!? Megumin, apa kamu akhirnya kehilangan akal sehatmu!?”

“Kakak jadi gila!”

“A-Apa maksud kalian!? Kalian berdua itu bicara apa sih!?”

Meski saat aku membalas perkataan mereka, mataku tetap menatap ke arah kartu petualangku.

—Aku punya cukup skill point.

Aku punya cukup untuk mempelajari Sihir Ledakan.

———————————-

BAGIAN KEENAM

Meski aku tahu kalau ini adalah hal yang bodoh untuk dilakukan, aku tetap mempelajari sihir ini.

“Kakak mulai mengeluarkan suara seperti gemeretak petir!”

“Me-Me-Me-Megumin!? Apa ini, apa yang terjadi!? Sihir tingkat atas seperti apa yang akan kamu gunakan!? Saat orang dari desa menggunakan sihir, biasanya tidak sampai seperti ini! Hei, sihir apa sebenarnya ini!?”

Sejak aku masih kecil, aku sudah menghafalkan mantranya dan berlatih melafalkannya setiap hari.

Suasana di sekelilingku mulai berubah bersama dengan kumpulan mana dan mantra yang sedang aku ucapkan.

Dengan aku sebagai pusatnya, suasana sekelilingku dipenuhi oleh listrik statis dan rasanya semakin sulit untuk melihat.

Karena ini bukan hanya pertama kalinya aku menggunakan sihir. Ini juga pertama kalinya aku menggunakan Sihir Ledakan yang dikenal dengan tingkat kesulitannya yang sangat tinggi.

Aku tidak bisa mengendalikan kekuatan ini secara penuh, sehingga sedikit kekuatan tersebut mulai tidak terkendali dan menghancurkan sekelilingku.

—Sambil mengucapkan mantra Sihir Ledakan, aku mulai mengingat berbagai macam hal.

Seperti apa yang terjadi saat aku hanya kekurangan satu poin untuk mempelajari Sihir Ledakan.

Setelah aku bertarung dengan Yunyun di taman, aku mencekik seekor Bebek Bawang liar.

Pada saat itu, levelku ikut naik dan membuat jumlah skill point-ku cukup untuk mempelajari Sihir Ledakan.

Seakan menyadari suasana yang mulai berbahaya ini, para anak buah dewa jahat mulai berteriak-teriak.

Aku bisa merasakan mana-ku mulai berkurang setiap kali aku mengucapkan mantra.

Meski aku yakin dengan jumlah mana dalam diriku, keringat dingin tetap saja mengucur dari kepalaku.

Karena Sihir Ledakan ini memerlukan banyak sekali mana, bila orang yang melepaskannya tidak memiliki cukup banyak mana, sihir ini tidak akan bisa digunakan walau dia sudah mempelajarinya.

Kalimat dari buku pelajaran itu terlintas dalam pikiranku, tapi sebagai seorang anggota Klan Iblis Merah, mustahil bagiku untuk tidak bisa menggunakan sihir ini. Aku singkirkan pikiran negatif itu dari kepalaku dan melanjutkan mantranya.

Akhirnya, aku selesai mengucapkan mantranya—

Ada sebuah bola cahaya kecil di atas telapak tanganku.

……Sudah selesai.

Untuk bisa menciptakan cahaya kecil ini, aku harus berusaha keras sejak aku kecil. Dan akhirnya aku berhasil.

Aku masih belum memiliki tongkat sihir untuk meningkatkan kekuatan sihirnya.

Melepaskan Sihir Ledakan tanpa tongkat seperti ini, kekuatan yang dihasilkan mungkin hanya setengah dari seluruh kekuatannya.

Tapi, meski begitu.

“Yunyun, Komekko. Tiaraplah dan lindungi kepala kalian.”

Aku tetap yakin kalau aku bisa menghabisi monster-monster itu dalam sekali serangan.

Yunyun menyeret tubuhnya yang masih lemas ke dekat Komekko lalu memeluknya sambil membaringkan tubuhnya di atas tanah.

Sepertinya dia mengerti apa yang akan aku lakukan.

Cahaya yang semakin berkilau di tanganku ini terasa panas bagaikan api. Tekanan dari kekuatan yang dipadatkan ini membuatku merasa tenang.

Tidak masalah. Aku pasti bisa mengendalikannya.

Di dalam hatiku aku mencoba meyakinkan diriku, menatap ke arah langit.

Sihir Ledakan yang selalu ingin aku pelajari.

Sihir Ledakan yang ada dalam mimpiku.

Sihir Ledakan yang demi bisa menggapainya aku siap mengorbankan segalanya.

Mau itu naga ataupun iblis, dewa ataupun raja iblis, mereka semua tidak akan bisa bertahan dari serangan langsung sihir ini. Ini adalah teknik pamungkas umat manusia.

Kenangan masa kecilku masih teringat jelas seakan baru kemarin aku mengalaminya. Kali ini, aku sendiri yang akan—

“Diriku bernama Megumin! Orang paling jenius di Klan Iblis Merah, pengguna Sihir Ledakan! Aku akhirnya— akhirnya telah menggapai sihir yang selama ini menjadi impianku! Aku… aku tidak akan pernah melupakan hari ini! …MAKAN NIH!!!”

Aku membuka kedua mataku lalu mengangkat bola cahaya yang ada di tanganku tinggi ke atas, lalu berteriak:

EXPLOSIOOONNN———!!!”

Cahaya dari tanganku melesat menuju kumpulan monster-monster itu.

Cahaya itu kemudian lenyap seakan dimakan oleh para monster.

Sekejap kemudian, sebuah kembang api yang bersinar terang dan begitu menakjubkan mekar di langit malam—!!

“AAAAAHHHHH!!! GYAAAAAAHHH!!!”

“——!!”

“WAHAHAHAHAHAHA! Ini dia. Inilah yang ingin aku lihat! Benar-benar ledakan yang sangat menakjubkan! Benar-benar kekuatan penghancur yang sangat luar biasa! Benar-benar sensasi yang sangat melegakan!”

Sambil memeluk Komekko, Yunyun berteriak ketakutan. Aku mengabaikan angin kencang dan dentuman ledakan yang menggema, terus tertawa dengan kerasnya.

Gelombang ledakannya menghancurkan pohon-pohon yang ada di bawah ledakan. Aku sendiri langsung terdorong sampai jatuh terbaring di atas tanah.

Monster-monster yang ada di langit terhempas oleh angin kencang bertenaga sihir lalu hancur oleh kekuatan yang begitu kuat. Semua monster itu sudah binasa.

Aku berbaring, menatap langit.

Aku tidak bisa bergerak karena kehabisan mana, sehingga aku hanya bisa melihat asap sisa ledakan yang perlahan lenyap.

Saat asap itu hilang sepenuhnya, sekumpulan monster yang tadinya berkumpul di atas sana kini telah lenyap. Sosok mereka, bayang mereka, kini telah tiada.

“A-A-A-Apa itu… Inikah Sihir Ledakan…? Ini jauh lebih dari ‘kuat’ ataupun ‘hebat’… Bahkan tanpa efek kendali atau penguat tongkat sihir pun, kekuatannya bisa seperti ini. Pantas jika sihir ini disebut sihir paling kuat… Rasanya aku bisa mengerti kenapa Megumin sangat terobsesi dengan Sihir Ledakan.”

Setelah menyaksikan seberapa kuatnya Sihir Ledakan, Yunyun melepas napas panjang.

Aku tidak berniat untuk membalas perkataannya, hanya tetap berbaring tanpa mengucap sepatah kata pun.

Sekali digunakan saja sudah menghabiskan semua mana yang ada di dalam tubuhku, bahkan menguras tenaga fisikku.

Setelah menggunakan sihir ini, orang yang menggunakannya benar-benar tidak bisa apa-apa.

Artinya, jika aku ingin menjadi seorang petualang, aku harus memiliki kawan yang bisa melindungiku saat aku sudah kehabisan tenaga.

Aku selalu berpikir kalau aku akan baik-baik saja meski aku sendirian.

Tapi, ada hal yang tidak bisa aku lakukan sendirian.

Aku harus mengingat kejadian hari ini. Aku benar-benar harus menghargai kawanku.

Kudengar suara dari kejauhan. Orang-orang dewasa dari desa kedengarannya sangat khawatir. Aku membayangkan sosok kawan berpetualangku di masa depan nanti yang saat ini belum aku temui…

“Ahh!! Kakak meledakkan semua daging burungnya!!”

——————————-

BAGIAN KETUJUH

—Beberapa hari kemudian.

Setelah orang-orang dewasa yang melihat Sihir Ledakan itu tiba, situasinya menjadi kacau.

Soalnya, putri kepala suku dan aku terbaring di atas tanah, sementara Komekko masih mengenndong Kuro dan berdiri di dekat kami.

Aku dibawa pulang saat aku masih tidak sadarkan diri. Keesokan harinya, Yunyun dan aku melaporkan apa yang terjadi kepada wali kelas kami.

Sementara kepada para orang dewasa yang lain, aku memberi tahu mereka kalau saat aku pulang, aku melihat pintu rumahku hancur, Komekko menghilang, lalu pergi bersama Yunyun untuk mencari Komekko.

Sebagai hasilnya, ada sebuah tanda tanya baru yang menyebar di seantero desa.

“…Hei, Megumin, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“………….”

Yunyun bertanya tanpa menunjukkan sedikit pun ekspresi di wajahnya. Sayangnya aku tidak punya jawaban untuk pertanyaannya itu.

Wali kelas kami bilang sekolah akan mengadakan upacara kelulusan untuk kami berdua akhir pekan nanti. Kami hanya perlu pergi ke sekolah saat hari itu tiba.

Belakangan ini kami tidak punya kerjaan apa pun, hanya menghabiskan waktu di taman.

“……Hei, Megumin.”

Karena dia memanggilku, aku melirik ke arahnya.

Dia perlahan menatap ke arahku dari jarak dekat—

“…Megumin… …APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SEKARANG!!??”

Aku menutup mataku, menutup telingaku sambil berjongkok.

“Sekarang bukan waktunya mencoba lari dari kenyataan! Apa yang akan kita lakukan!? Kak Bukkololy bilang segel Dewi Tanpa Nama Pembalas Dendam juga ikut hancur! Lokasi segelnya tepat di mana Megumin melepaskan Sihir Ledakanmu waktu itu! Dewi yang terbebas dari segelnya itu sekarang hilang entah kemana! Gimana nih!? Hei, apa yang harus kita lakukan!?”

Yunyun mengguncang pundakku dengan kencangnya sementara aku terus berpura-pura tidak mendengar apa pun.

Meski aku berharap bisa menghindari masalah itu dengan bersikap seperti ini, aku mendengar kalimat yang menurutku salah.

“Tunggu dulu, Yunyun. Caramu mengatakannya akan membuat orang lain salah mengira dan berpikir kalau akulah yang menghancurkan segel tersebut.”

“Memang kejadiannya seperti itu, ‘kan!? Kak Bukkololy bilang kalau banyak benda-benda berbahaya yang tersegel di tempat itu! Melepaskan Sihir Ledakan yang sangat kuat tepat di atas tempat itu akan membuat segelnya hancur!”

Aku berkata pada Yunyun yang tidak mau berhenti menghujaniku dengan amarah.

“Tapi orang dewasa di desa punya penjelasan yang lain. Dewa jahat yang terlepas dari segelnya bertarung melawan dewi yang bangkit itu. Pada akhirnya, sang dewi lah yang menang dan dia lalu menghabisi anak buah dewa jahat itu dalam sebuah ledakan besar. Kemudian, dia pergi entah kemana…”

“Ini jelas-jelas salah! Ini semua karena sihir Megumin!”

Tidak ada satu pun orang dari desa yang mengira bila Komekko lah yang melepas segel dewa jahat.

Dan mereka tidak tahu kalau aku telah mempelajari Sihir Ledakan.

Cuma wali kelas kami yang tahu akan hal itu.

Kalau orang dewasa di desa tahu aku mempelajari Sihir Ledakan dan Yuyun mempelajari Sihir Tingkat Menengah, mereka akan sangat kecewa.

Wali kelas kami mengerti akan hal itu, sehingga dia merahasiakannya dari para penduduk desa.

Sepertinya wali kelas kami, yang aku kira orang yang tidak bisa diandalkan, masih memiliki rasa peduli kepada muridnya.

Selain itu—

“Yunyun, hari ini boleh tidak aku…”

“Gak boleh! Kenapa kamu masih perlu bertanya!? Kekacauannya akhirnya reda, apa kamu mau membuat kekacauan lagi!? Beberapa hari ini kamu belum menggunakan Sihir Ledakan, jadi kamu masih bisa menahannya, ‘kan!? …Me-Meskipun kamu membuat wajah sedih seperti itu, tetap tidak boleh! Dan ini demi kebaikanmu sendiri!”

Ucap Yunyun meski dia sempat terhasut.

Beberapa hari yang lalu aku merasakan sensasi menggunakan Sihir Ledakan.

Setelahnya, Yunyun melarangku menggunakan Sihir Ledakan.

Alasannya karena jika aku menggunakan sihir itu di dekat sini, hal itu akan membuat kekacauan lagi di desa, padahal wali kelas kami sudah berhasil menutupi kekacauan tersebut.

Ya, aku mengerti alasan itu.

Meski aku mengerti…

“Yunyun, kamu seharusnya tahu seberapa besar rasa cintaku pada Sihir Ledakan, ‘kan?”

“Iya, aku tahu. Aku juga tahu kalau rasa cinta Megumin pada Sihir Ledakan itu di mata orang lain adalah obsesi yang berlebihan.”

Kalau dia tahu sebanyak itu, maka seharusnya mudah bagiku.

“Dengar yah, Yunyun. Untuk menjelaskan seberapa besarnya cintaku pada Sihir Ledakan — Kalau aku harus memilih antara ‘Boleh menggunakan Sihir Ledakan dan makan satu makanan yang mengeyangkan’ dan ‘Makan tiga kali sehari ditambah makanan penutup tapi tidak boleh menggunakan Sihir Ledakan,’ aku akan dengan senang hati memilih pilihan yang awal. Setelahnya, aku akan makan 2 makanan yang masih tersisa ditambah makanan penutup. Sebesar itulah rasa cintaku pada Sihir Ledakan.”

“Wahh… Rupanya Megumin yang rakus juga bisa…? Eh, lho!? Hei, bisa tidak kamu mengulang apa yang barusan kamu katakan? Rasanya barusan kamu mengatakan hal yang aneh, deh!”

Yunyun langsung menginterogasiku, tapi sebenarnya aku mengerti bila menggunakan Sihir Ledakan akan menciptakan banyak masalah.

Aku menggaruk kepala si bola berbulu yang ada di dekat kakiku.

“Yah, untuk sementara ini aku masih bisa tahan. Kalau aku sudah tidak tahan, aku akan segera pergi berkelana lalu menggunakan Sihir Ledakan untuk menghancurkan dunia yang ada di luar desa ini.”

“Ka-Kamu sebaiknya tidak melakukan hal itu! Bahkan meski itu hanya sebuah lelucon!”

Aku berdiri dan memutuskan untuk mengganti obrolan kami.

“Syukurlah tidak ada yang terluka saat kejadian itu. Meski apa yang diketahui penduduk desa itu jauh dari kebenaran yang ada, tapi tidak apa-apa selama mereka bisa menerimanya.”

Aku memungut si bola berbulu yang ada di dekat kakiku.

Yunyun melirik Kuro yang ada dalam pangkuanku lalu bertanya dengan nada seakan perasaannya tercampur aduk:

“……Hei, Megumin. Kuro itu sebenarnya apa? Kenapa Kuro menarik perhatian semua monster itu? Apa dia memiliki hubungan dengan dewa jahat? Bagaimana segel dewa jahat itu bisa terlepas? Apa memang benar seperti yang dikatakan para penduduk desa, kalau turis yang kebetulan lewat iseng melepas segel itu…?”

Yunyun tidak berhasil membaca inti permasalahannya.

Soalnya, tidak ada yang berpikir bila segel itu dilepaskan oleh seorang anak kecil yang terdorong oleh rasa ingin tahunya.

Kalau saja aku tidak melakukan hal yang sama saat aku masih kecil, aku tidak akan pernah mencurigai Komekko.

Setelah mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan di rumah, aku akhirnya tahu bila memang Komekko lah yang melepas segel tersebut.

Aku ingin memarahinya, tapi aku tidak bisa melakukannya saat dia mengeluarkan pecahan segel tersebut lalu menyodorkannya padaku dengan wajah tanpa dosa sambil bertanya apakah aku mau bermain dengannya.

Satu-satunya kerusakan pada rumahku hanya pintu depannya saja. Tidak terlalu parah, jadi aku diam saja soal itu.

—Masalahnya, apa yang harus aku lakukan dengan makhluk ini.

“Bola berbulu ini benar-benar seenaknya. Kucing itu seharusnya bersikap lebih manis.”

Kuro, yang dicari lalu dibawa dengan sangat hati-hati oleh anak buah dewa jahat.

Sosoknya yang sesungguhnya kemungkinan adalah…

“Hei, Megumin. Apa kamu akan menjaganya di rumah? So-Soalnya… cara Komekko menatap Kuro itu…”

Yunyun menghentikan perkataannya.

Ya, tentu saja aku mengerti apa yang ingin dia katakan.

“Gimana, yah… Kalau aku meninggalkannya di rumah, Komekko suatu hari nanti mungkin akan memakannya. Tapi di saat seperti ini, memberikannya pada orang lain atau melepasnya bukanlah ide yang bagus…”

Aku mengangkat Kuro dengan kedua tanganku hingga sejajar dengan mataku. Dia tidak meronta.

Yunyun melirik ke arah Kuro dan memikirkan sebuah rencana.

“Benar juga! Kenapa kamu tidak membuat kontrak familiar dengannya saja? Kalau dia menjadi familiar kesayangan kakaknya, Komekko juga mungkin tidak akan…”

Kata-katanya semakin terdengar pesimis saat dia mau menyelesaikan perkataannya.

Tentu saja, aku mengerti apa yang dia maksud.

Karena adikku hidup mengikuti instingnya, alasan seperti itu tidak akan menjadi halangan baginya.

Tapi, seekor familiar yah…

“…Seorang penyihir yang mengendalikan sang dewa jahat… kedengarannya tidak buruk juga.”

“? Megumin, barusan kamu ngomong apa?”

Sepertinya Yunyun tidak mendengar gumamanku barusan.

“Aku bilang membuatnya menjadi familiar-ku kedengarannya tidak terlalu buruk.”

Dengan serampangan aku mencoba memoles perkataanku.

Lalu tersenyum pada bola berbulu dengan masa lalu yang tidak biasa ini.

Yunyun merasa tenang lalu melepas napas lega. Tiba-tiba saja, aku terpikirkan sesuatu.

“Benar juga, kalau dia akan menjadi familiar-ku, nama sementaranya ini tidak bagus untuk dia pakai.”

“Eh!? Apa kamu tidak bisa membuat Kuro menjadi namanya!?”

“Tidak, terlalu sayang kalau dia memiliki nama yang tidak indah seperti itu.”

“Tidak indah!?”

Aku mengabaikan Yunyun yang terkejut. Aku berpikir keras untuk menentukan namanya.

Pada saat itu, Kuro tiba-tiba membalikkan badannya.

Seakan ingin berkata “Kuro saja tidak apa-apa.”

“Tuh, Kuro sepertinya suka namanya yang sekarang. Selain itu, dia masih seekor kucing kecil, mengubah namanya seenaknya saja hanya akan membuat dia kebingungan.”

Yunyun memaksa kalau nama yang dia berikan itu lebih bagus. Tapi aku sudah menentukan nama yang bagus untuknya.

“Sudah kuputuskan!”

Ucapku dengan penuh percaya diri. Sebaliknya, Yunyun nampak khawatir.

“Hei, Megumin. Kuro itu kucing betina. Ingat itu baik-baik dan beri dia nama yang manis…”

Aku memotong kata-katanya.

Aku menatap ke arah familiar-ku yang ada di hadapanku lalu berkata padanya:

“—Namamu adalah Chomusuke. Yap, Chomusuke.”

Familiar yang biasanya bertindak seenaknya dan mungkin memiliki wujud asli yang mengerikan—

Tidak bisa berhenti gemetar seperti maut sudah ada di depan matanya.

—————————————

SELINGAN – BAGIAN TERAKHIR

—Iblis Agung dan si Gadis Sekejam Iblis—

“Hei, Komekko.”

“Hei, Hoost.”

Aku berdiri di depan nisan dewa jahat. Pada saat itu, Hoost terbang membawa sesuatu.

“Lama kita tidak bertemu… Ngomong-ngomong, ada apa ini? Tempat di sekitar makam jadi hancur seperti ini. Bahkan ada pohon-pohon yang menjadi rata dengan tanah. Apa yang terjadi di sini?”

“Aku dengar dewa jahat bangkit dari kuburnya, yang kemudian membangunkan dewi tanpa nama. Mereka bertarung dan kemudian dewa jahat hancur.”

Hoost menjatuhkan barang yang dia bawa.

Sebuah sangkar yang berisi seekor ayam dan beberapa ekor anak ayam.

“I-Itu mustahiiiiiiillll!!!”

“Orang dewasa bilangnya seperti itu.”

Mendengar perkataanku, Hoost menundukan kepalanya penuh rasa kecewa.

Tapi, aku lebih tertarik dengan ayam yang berciut-ciut di dalam sangkar itu.

“Ke-Kenapa segel Nona Wolbach bisa… Aku tidak percaya ini. Di saat aku pergi selama beberapa saat… Eh? Tapi, ini aneh sekali. Kalau diri lain Nona Wolbach hancur, aku seharusnya tidak akan bisa tetap berada di dunia ini…”

Aku duduk di dekat sangkar, memperhatikan isinya. Hoost tiba-tiba saja berteriak.

“Benar juga! Diri lain Nona Wolbach pasti berhasil selamat! Dia pasti sedang bersembunyi. Aku harus segera menemukannya lalu melindunginya…!”

Hoost memandang ke arahku.

“…Yah, jadi begitulah. Aku harus pergi. Mungkin aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi… Aku tidak perlu persembahan itu. Silahkan saja kalau kau menginginkannya.”

“Aku makan induknya. Chomusuke makan anak ayamnya.”

“JANGAN DIMAKAN! Tunggu, ini tidak baik untuk pembelajaran budi pekerti anak dan emosionalnya. Sebaiknya aku membawanya lagi. Ngomong-ngomong, apa yang kau maksud dengan Chomusuke?”

“Hewan sihir berwarna hitam yang sebesar ini. Mau melihatnya?”

“Nggak usah. Paling cuma kucing, ‘kan? Setidaknya beri dia nama yang normal… Dasar, ada apa sih dengan orang-orang dari Klan Iblis Merah…”

Hoost melebarkan sayap di punggungnya.

“……Apa kamu mau pergi?”

“Hah? Apa kau tidak mendengar perkataanku? Aku harus menemukan Nona Wolbach… Hei, jangan berwajah sedih seperti itu. Mau bagaimana lagi, selain itu, yah, kau itu anggota dari Klan Iblis Merah, ‘kan?”

Aku mengangguk.

“Aku punya firasat kuat kalau kelak kau akan menjadi seorang penyihir yang hebat. Bila kontrakku dengan Nona Wolbach sudah berakhir… Pada saat itu, jika kau bisa memanggilku, aku akan membuat kontrak familiar denganmu.”

“Benarkah!?”

“Tapi, kau harus bisa memanggilku dulu! Yah, kemungkinan untuk memanggil iblis agung sepertiku itu sangat kecil. Kau mungkin tidak akan bisa melakukannya…”

Hoost melayang-layang di udara dengan sayapnya. Dia memiringkan kepalanya dan sempat enggan untuk pergi, kemudian dia turun kembali. Dia lalu berjongkok untuk menyamakan tingginya denganku.

“Biasanya seperti itu… Tapi, aku merasa kau punya bakat untuk menjadi seorang pengendali iblis. Mungkin saja kau bisa memanggilku.”

“Aku akan berusaha keras!”

Hoost kemudian berkata kalau itu mungkin mustahil untuk menciutkan semangatku, lalu dia mengacak-acak rambutku.

“Selamat tinggal, Komekko! Berusahalah yang keras untuk menjadi penyihir yang hebat! Diriku bernama Hoost! Iblis agung yang melayani sang Dewa Jahat, Nona Wolbach, diriku ialah Hoost!”

“Diriku bernama Komekko! Menjaga rumah ialah tugasku! Aku Adik Gadis Nakal Nomor Satu Klan Iblis Merah! Juga orang yang akan bisa mengendalikan Hoost!”

Aku mengibaskan jubahku lalu membuat pose pada Hoost.

Hoost tertawa, dia lalu melebarkan sayapnya dan pergi meninggalkan desa.

Aku melihat teman pertamaku, yang sering mengeluh tapi juga selalu membawa makanan, terbang pergi.

Aku melambaikan tanganku hingga bayangannya lenyap menuju cakrawala.

Iklan