Kono Subarashii Sekai ni Shukufuku o! Vol. 6 – Putri Satsukuma Prologue & Ch.1

Kalau kalian berharap ane bakal nerjemahin vol. 1 atau vol. 3 maka ane mohon maaf karena ane langsung nerjemahin vol. 6. Kenapa? KARENA NGEBULLY DARKNESS ITU ASEEKK!!! *PLAK*

Nah, alesannya karena kebetulan aja kok. Dan translasi ini hanya sekedar teaser untuk project ane selanjutnya.

Yep, ane gak ada niat buat nerjemahin vol. 6 secara penuh karena a certain translation group sudah ada project buat nerjemahin vol. 3 dst.

Ane pengen nge-publish teaser ini dulu sebelum mulai project buat mastiin apakah skill penerjemah ane mulai mandul atau nggak soalnya selama ini ane selalu nerjemahin lirik dan bukan cerita panjang seperti ini.

Kalau menurut kalian translasinya udah cukup OK ane mungkin akan nerjemahin Spin-Off yang Explosion. Tapi, kalau ternyata skill ane udah menurun maka yah ane bakal berhenti dan nyoba peruntungan di lain waktu.

BTW seperti yang sudah ane katakan di post sebelumnya, ini adalah translasi yang ane ambil dari Skythewood dan merupakan translasi dari Jepang>Chinese>English>Indonesia. Ane yakin bakal banyak mistranslation di sana-sini dan ane gak sempet download RAW Jepangnya karena ukurannya lumayan gede. So, ane berharap kritik dan saran yang menjatuhkan dari kalian. Pujian juga gpp kok :’)

Selain itu ane butuh editor buat nge-check grammar ane yang suka kacau. Mungkin ane bisa ngontak a certain someone buat jadi editor ane but kali aja ada orang lain yang mau~
Well, kayaknya segitu aja yang pengen ane omongin. Silahkan menikmati Prologue serta Chapter 1 dari vol. 6 KonoSuba~

————————————————-

Prologue

Pada hari itu, setelah aku terbangun aku tidak langsung turun dari kasurku yang empuk, tetapi justru menepuk kedua telapak tanganku. Aku melakukannya untuk memanggil pelayan yang ada di balik pintu kamar ini.

Orang yang muncul adalah seorang pria tua berambut putih dengan pakaian seorang butler.

“Apa ada yang bisa Saya lakukan untuk Anda, Kazuma-dono?”

Aku pun mengatakan sesuatu kepada pria tua yang membungkuk di hadapanku ini.

“Apa kamu bisa membuatkan secangkir kopi untuk membangunkanku dari rasa kantukku, Sebastian?”

“Nama Saya Hiedel.”

“Terima kasih, Hiedel.”

Setelah aku meminta kopi dari si pelayan Hitler itu, aku kembali membaringkan tubuhku di atas kasur.

Pelayan Mary nanti akan masuk untuk mengganti seprai, tetapi aku tidak akan membiarkan dia melakukan pekerjaannya dengan mudah.

Aku harus mengganggu pelayan itu dengan berbagai macam cara supaya dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya. Begitulah cara memperlakukan pelayan yang diajarkan seorang Crusader padaku.

Akhirnya, terdengar suara ketukan pintu. Dia akhirnya datang. Pelayan pribadiku, Mary…

————————-

Chapter 1 – Memberikan Pesta pada Masa Depan Kita yang Cerah!

Bagian Pertama

Belakangan ini aku sering berkelana sehingga wisma yang sangat aku rindukan ini mulai berdebu. Sambil duduk bersila di tengah karpet yang lembut ini, aku memikirkan kembali tentang hal-hal yang terjadi belakangan ini.

–Tanah suci para Arch Wizard, tempat yang menghasilkan banyak mage handal, Desa Klan Iblis Merah. Datang surat dari tempat itu yang berisi kata-kata terakhir serta laporan serangan dari pasukan Raja Iblis yang diberikan kepada seorang gadis.

Meski gadis itu tahu bila dia tidak akan bisa berbuat banyak meski bila ia pergi kembali ke desanya sendirian, gadis itu tetap membulatkan tekadnya untuk kembali ke kampung halamannya.

Sadar bila dia tidak akan bisa kembali ke kota ini lagi, gadis itu menyatakan perasaan yang selama ini ia sembunyikan jauh di dalam hatinya padaku, memintaku untuk menjadi satu dengannya sebelum dia pergi menuju ajalnya.

Aku menolak tekadnya itu lalu meninggalkan gadis yang malang itu sendirian dan pergi mengelana.

Ya, demi bisa mengalahkan pasukan Raja Iblis dengan tanganku sendiri sebelum gadis itu kembali…

Setelah itu, berbagai macam hal terjadi dan sang Raja Iblis blah blah blah berhasil dikalahkan berkat aksiku, membawa kedamaian kembali ke Desa Klan Iblis Merah. Namun–

“…Dari tadi Kazuma senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Sekarang musim semi sih, jadi wajar kalau dia jadi bodoh.”

Setelah kami kembali ke Axel, kami kembali hidup dengan penuh kedamaian.

Darkness, Megumin dan Aqua yang mengatakan hal jelek tentangku sedang duduk santai di atas sofa di ruang tamu, mereka sedang bermain game konsol secara bergantian yang kami bawa pulang dari Desa Klan Iblis Merah.

Setelah aku tersadar dari lamunanku, aku berbalik menghadap ke arah mereka bertiga lalu berkata dengan muka serius:

“Aku ingin seorang adik perempuan.”

–Setelah aku mengatakan hal itu, ruangan menjadi hening tanpa sedikitpun suara.

Kemudian…

“Hei Darkness, mainnya giliran ‘kan? Abis ini giliran aku ‘kan? Aku yang akan mengalahkan bos terakhirnya.”

“Tunggu, bukannya Aqua dan Megumin sudah mengalahkan bos pasukan Raja Iblis di dunia nyata? Setidaknya biarkan aku mengalahkannya di dalam game.”

“Tidak bisa, sebagai anggota Klan Iblis Merah, kami tidak akan mundur kalau soal memberikan serangan terakhir. Selain itu, bos terakhir pasti adalah musuh yang kuat. Kalau kita membiarkan Darkness yang ceroboh untuk menghabisinya, kita harus melakukannya berkali-kali sebelum bisa mengalahkannya.”

Mereka bertiga sepertinya tidak memperdulikan ucapanku karena mereka terus meributkan siapa yang selanjutnya akan main.

“Dengarkan perkataankuuuu!!”

“Waaahhhh! Hentikan, kami sudah mau menyelesaikan game-nya! Kami semua sudah menghabiskan banyak sekali waktu sampai akhirnya bisa mencapai stage ini!”

Aku merampas game mereka lalu mulai memainkannya sambil menghindari Aqua yang mencoba merebutnya kembali…

“Nih, aku sudah mengalahkan bosnya tanpa terkena serangan sedikitpun! Gimana, apa kalian senang sekarang!?”

“Senang apanya!? Kenapa kamu merampasnya disaat-saat yang paling penting!? Bagaimana kamu mau mengganti semua kerja keras yang kami lakukan demi bisa mencapai stage ini!? Kami perlu 3 hari supaya bisa melakukannya tahu!!”

“Diam kau, berikan lagi padaku game-nya! Aku cuma perlu waktu 3 jam supaya bisa sampai di tempat yang sama tanpa terkena serangan sedikitpun.”

“Jangan, hentikan! Jangan menginjak-injak hasil kerja keras kami!”

Aqua merebut kembali konsol game-nya sambil berlinang air mata.

“Aku kira apa yang kamu lakukan saat kita berada di Desa Klan Iblis Merah itu lumayan bagus, tapi kamu tetap saja seorang pria brengsek! Memangnya menginjak-injak hasil kerja keras kami itu menyenangkan!? Megumin, kamu juga katakan sesuatu padanya!!”

Saat Megumin mendengar perkataan Darkness yang penuh nada kesal, dia menjawab:

“…Erm, yah, dia ‘kan tidak kita ajak main bersama jadi aku merasa sedikit kasihan padanya. Mau itu saat melawan bos di Desa Klan Iblis Merah, atau saat pertarungan-pertarungan yang dulu, Kazuma selalu bisa diandalkan disaat-saat terakhir. Yang barusan terjadi itu cuma hal yang biasa terjadi di antara kita ‘kan?”

“EH!?” x2

Aqua dan Darkness langsung berteriak terkejut, melirik ke arahku lalu ke arah Megumin secara bergantian.

“Hei Megumin, kamu kenapa? Biasanya kamu yang duluan menghajar Kazuma. Apa yang terjadi pada anak paling brandal di kota Axel?”

“Iya, Megumin yang kelihatannya memiliki potensi paling tinggi untuk mendapatkan kelas tingkat atas ‘Berserker’ dibanding yang lainnya, tidak mungkin dia jadi anak yang penurut seperti ini. Hei Kazuma, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua saat di Desa Klan Iblis Merah?”

“Kalian berdua itu tidak sopan yah! Aku ini seorang Arch Wizard yang dikenal akan ketenangan dan kedewasaannya! ….Jadi, Kazuma, kamu kenapa tiba-tiba seperti itu? Kalau kamu mau adik perempuan, daripada membicarakannya dengan kami, kamu seharusnya mengatakannya pada orang tuamu ‘kan?”

“Aku sudah memberitahu orang tuaku lagi dan lagi kalau aku mau seorang adik perempuan. Dan adikku itu harus yang tidak memiliki hubungan darah denganku, jadi mereka harus segera bercerai lalu menikah dengan seseorang yang sudah memiliki anak perempuan. Itulah pertama kalinya orang tuaku menghajarku habis-habisan.”

“Mereka pasti orang tua yang hebat karena tidak langsung mengusir anaknya yang mengatakan sesuatu seperti itu.”

“Orang tuaku tidak penting! Lagipula aku tidak bisa kembali ke tempat asalku, jadi percuma membicarakan mereka. Yang paling penting–!”

Dengan gerakan lebay, aku membalikkan kepalaku, menghadap ke arah mereka yang tidak mau mengikuti topik pembicaraan.

“Wiz tipe kakak perempuan yang bisa menyembuhkan luka di hati, Chris tipe gadis penuh semangat, Sena tipe kakak perempuan yang sikapnya sedingin es, dan Yunyun yang selalu sial! Bahkan tipe normal gadis utama seperti Eris-sama– Aku sudah bertemu semua tipe wanita cantik yang ada!”

“Kazuma-san, Kazuma-san, kalau aku? Aku tipe cantik yang seperti apa?”

“Kau itu tipe pelengkap atau tipe hewan peliharaan. Sudah, ini justru bagian yang paling penting, yang lain kesampingkan dulu!”

Aku menyingkirkan Aqua yang siap menghajarku lalu mengepalkan tanganku.

“…Aku menyadari sesuatu yang penting. Ini masih belum lengkap. Di negeri kelahiranku, Jepang, aku juga punya semacam teman masa kecil… Jadi, kalian mengerti apa yang masih kurang ‘kan?”

Megumin melepas napas panjang, seakan mengerti apa yang aku katakan.

“…Kamu benar-benar menyusahkan. Jadi maksudmu, kamu mau aku mengisi peran sebagai adik perempuanmu?”

“Apa yang kau bicarakan? Megumin, kau itu tipe loli.”

“Eh!?”

Selain Megumin yang terkejut tanpa alasan yang jelas, Darkness dengan malu-malu mengangkat tangannya.

“Erm, kalau aku tipe cantik yang seperti…”

“Kau yang mengurus bagian erotis.”

“Erotis!?”

Sambil mengabaikan Darkness dan Megumin yang kelihatannya terkejut karena sesuatu, aku mengutarakan kesimpulan yang ada:

“Kalian ingat ‘kan saat kita pergi ke Desa Klan Iblis Merah, Megumin punya seorang adik perempuan di sana ‘kan? Saat itu aku merasa kalau aku juga perlu seorang adik perempuan… Kalian semua mengerti apa yang aku katakan ‘kan?”

“Sama sekali tidak.”

Yang menjawab adalah Aqua yang dengan patuhnya mendengarkan perkataanku sampai selesai.

–Ada alasan jelas kenapa saat ini aku mengatakan semua ini. Yaitu karena…

“Putri… sepertinya dia lebih muda dariku, mungkin dia itu tipe adik perempuan…”

Ya. Aku punya harapan besar pada sang Putri yang mengirimkan surat itu kepada kami.

Aku dengar sang Putri baru berumur 12 tahun. Umurnya di luar incaranku. Tapi setidaknya, aku berharap bisa membangun hubungan yang baik dengan gadis kecil itu lalu membiarkan dia memanggilku Onii-sama.

Aku tidak tahu apa ketiga gadis ini tahu apa yang aku pikirkan setelah kembali dari Desa Klan Iblis Merah.

“…Hei Kazuma. Masih belum terlambat untuk menolak undangan itu! Ok? Keluarga yang mengundang kita itu salah satu pemimpin kerajaan! Mungkin kita hanya akan makan malam bersama, tapi semua itu tidak akan berjalan seperti yang kamu bayangkan. Makan malamnya pasti akan sangat membosankan! Ok? Sebaiknya kita abaikan saja undangan ini!”

Darkness yang tidak biasanya bersikap tegas kadang mencoba meyakinkanku untuk menolak undangan ini. Darkness sudah mengeluarkan berbagai macam cara untuk menghentikanku menemui sang Putri, tapi rasanya dia semakin sering melakukannya sejak aku mengatakan apa yang aku inginkan.

Sambil tetap duduk di atas karpet aku berkata:

“…Kau pasti berpikir kalau kami akan melakukan hal-hal yang tidak sopan di hadapan tuan Putri, iya ‘kan?”

Darkness langsung menggelengkan kepalanya setelah mendengar perkataanku.

Matanya sempat menunjukan keraguan lalu sejurus kemudian dia menundukkan kepalanya.

Di-dia tidak berpikir kalau kami akan membuat keributan… Iya ‘kan?

Siapa ini?

“Hei, tatap mataku dan jangan menggunakan cara bicara yang tidak biasa kau gunakan. Kau khawatir kalau kami akan membuat kesalahan yang akan menodai nama baik keluarga Dustiness, iya ‘kan?”

“Eh, yang benar!? Kok kamu gitu sih, Darkness! Kami sendiri tahu kok kapan harus ribut dan kapan harus bersikap sopan!”

“Tidak bisa kupercaya! Darkness, kamu pikir kami akan melakukan sesuatu yang akan merugikanmu? Kita ini ‘kan kawan seperjuangan! Lebih percayalah pada kami!”

Saat mereka mendengar ucapanku, Aqua dan Megumin langsung ikut menyeruakan pendapat mereka.

“Uh… Ughhh… Sejujurnya, aku sangat tahu kalian itu seperti apa dan justru karena itulah aku merasa khawatir…”

Ucap Darkness dengan ekspresi seakan dia ingin menangis.

Aku pun berkata pada Darkness yang kini memasang wajah penuh kekhawatiran:

“Aku mengerti perbedaan status kami dan aku sendiri tahu etika-etika dasar. Aku cuma merasa senang dan tidak sabar bisa bertemu dengan seorang nona dari kalangan atas, cuma itu kok.”

“Hei hei, aku ini juga nona kalangan atas!”

Aku merasa Darkness yang kebingungan ini seperti angin segar.

“Benar juga, aku perlu membeli setelan jas. Kalian sendiri tidak punya gaun ‘kan? Ayo kita pergi untuk membuatnya.”

“Ide bagus tuh! Aku juga ingin memakai pakaian lain selain Hagoromo! Tapi, apa bisa selesai tepat waktu?”

“Tentunya aku ingin gaun panjang berwarna hitam. Pakaian yang memancarkan aura kedewasaan.”

Aqua dan Megumin tidak menunjukan tanda-tanda kalau mereka ingin menolak undangannya.

Setelah melihat kami seperti ini, Darkness akhirnya meluap dalam tangis.

“Ka-kalian… Dia itu Putri kerajaan! Satu salah kata saja kalian bisa kehilangan kepala kalian! Kazuma, kamu juga cepat beri mereka peringatan…”

“Tapi, setelan jas itu terlalu biasa sih. Ok, agar bisa meninggalkan kesan yang baik pada sang Putri, aku akan membuat setelan Kimono dan Hakama…”

“Kumohon, aku akan melakukan apapun! Aku akan melakukan apapun yang aku bisa, jadi jangan memakai sesuatu yang aneh pada acara ini!”

Darkness memohon padaku.

————————-

Bagian Kedua

“Baiklah, seminggu sebelum tuan Putri dan para pengawalnya tiba– karena kau sudah bersikap sampai sejauh itu, aku serahkan semua pekerjaan rumah padamu.”

Keesokan harinya setelah Darkness memohon padaku sambil berlinang air mata.

“…A-Aku mengerti. Rupanya kamu serius dengan apa yang kamu katakan saat kita berada di Desa Klan Iblis Merah. Sepertinya aku sudah meremehkanmu.”

Saat ini, Darkness sedang mengenakan seragam maid yang ukurannya sengaja aku pilih satu nomor lebih kecil. Darkness dengan gaun pendek spesialnya saja sudah cukup seksi untuk sepadan dengan julukannya sebagai orang yang mengurus bagian erotis.

Darkness memasang wajah pasrah selagi dia berdiri di depanku. Melihat Darkness memaksakan dirinya untuk berpakaian seperti ini membuatku mulai bersikap seenaknya.

“Di saat-saat seperti ini, kau seharusnya berkata ‘Saya mengerti, tuan.'”

“…Erm …Ugh!! Saya mengerti, tuan! Saya hanya seekor babi hina…!!”

“Gak usah segitunya.”

Aku menghentikan Darkness yang gemetar dengan wajah memerah semu.

–Sebagai ganti karena aku tidak boleh memakai Kimono dan membuat keributan di hadapan Putri, aku berhasil memenuhi salah satu keinginan yang selama ini ‘ku pendam.

Ya. Yaitu menyuruhnya memakai kostum maid dengan rok pendek sambil berusaha keras mengerjakan berbagai macam pekerjaan rumah yang ada.

Kalau aku bersikap terlalu seenaknya bisa gawat nantinya. Karena itu, aku menahan diriku, tapi tidak ada salahnya ‘kan kalau hanya sesekali saja.

“Jadi, apa yang harus aku lakukan? Sebenarnya, aku belum pernah melakukan pekerjaan rumah, jadi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Apa aku harus menumpahkan teh di celanamu tepat di antara kedua kakimu lalu berusaha mengelapnya dengan wajah penuh rasa panik?”

“Jangan pernah membuat teh lagi.”

Memangnya dia pikir seorang pelayan itu pekerjaan yang seperti apa?

“Pokoknya, bersihkan saja wisma ini. Jangan mencuci piring atau peralatan makan, kau hanya akan merusaknya. Aku sudah bosan kehilangan uang gara-gara hal klise seperti itu.”

“..,Baik …Saya mengerti…”

Darkness yang nampaknya merasa kecewa karena sesuatu melangkahkan kakinya dengan berat hati, keluar dari ruang tamu.

Aqua dan Megumin sedang pergi ke tokonya Wiz. Artinya, saat ini hanya ada aku dan Darkness di dalam wisma. Kalau dipikir-pikir, Darkness selalu saja membuatku dapat masalah. Jadi, hari ini aku akan menyuruhnya semauku.

…Saat aku sedang berpikir seperti itu.

“Hyaahhh!”

Terdengar suara teriakan bersamaan dengan bunyi pot yang hancur. Darkness langsung berlari dengan pecahan suatu benda di tangannya.

“Saya sangat minta maaf, tuan! Saya sudah memecahkan vas berharga milik tuan! Mau hukuman seperti apapun itu, Saya…!”

“Aku tidak punya vas dan tidak akan menganggap sebuah vas jelek seperti itu sebagai benda berharga. Tapi, kalau kau merusak sebuah benda berharga milikku, aku akan menghukummu dengan menyuruhmu untuk memakai kostum maid itu ke guild para petualang.”

“!?”

–Darkness sedang membersihkan kaca tanpa peduli debu yang terbang mengenainya.

Sementara itu, aku sedang memperhatikan pekerjaan yang Darkness lakukan. Kalau kau tanya kenapa aku melakukan hal itu, maka jawabannya adalah karena aku gak ada kerjaan.

Aku menggosokkan jariku pada kaca lalu melihat ujung jariku. Sayangnya, sudah tidak ada debu yang tersisa, dia membersihkannya dengan cekatan.

“…Uhh, padahal biasanya kau jarang sekali bisa berguna, tapi sekarang saja kau bisa membersihkannya dengan sangat bersih…! Padahal aku mau mengusik kesalahanmu lalu menyuruh si Crusader Lalatina untuk pergi ke guild para petualang dengan memakai kostum maid sebagai hukumannya.”

“Fufu, aku tidak bisa dihukum semudah itu. Kamu itu orang yang paling bisa menebak apa yang paling aku benci… Dan tolong, berhenti memanggilku Lalatina.”

Dalam hal bersih-bersih, aku tidak punya pilihan selain memberikan Darkness nilai 100.

–Dan juga, setelah itu…

“…Ugh, aku kira kau akan salah menggunakan garam dengan gula…!”

“Kalau aku membaca labelnya aku tidak akan membuat kesalahan seperti itu. Dan sebagai seorang petualang, aku juga bisa melakukan pekerjaan sederhana seperti memasak daging.”

Tanpa sadar aku terus bergumam sambil memakan makan siang yang disiapkan Darkness. Nasi dengan salad dan juga daging panggang, dan berdasarkan pilihan masakan yang dia buat yang memang mudah dibuat, dia benar-benar tidak mau dihukum.

Darkness memasang senyum penuh kemenangan.

“Hmmp, aku menggunakan daging kualitas tinggi. Bagaimana rasanya?”

“Biasa aja.”

“!?”

–Membersihkan toilet.

Biasanya ini pekerjaan Aqua.

“…Emm, apa aku perlu membersihkan toilet?”

“…Mu-Mungkin tidak.”

Mungkin karena dewi memiliki efek untuk mengsucikan sesuatu. Dia selalu melakukannya ogah-ogahan, tapi toilet yang Aqua bersihkan adalah tempat paling mengkilap di seluruh wisma ini.

Tanpa pilhan lain kami pun mengerjakan pekerjaan lainnya.

“–Kamu tidak menipuku ‘kan!? Apa ini benar-benar pekerjaan paling penting seorang pelayan!? Kamu tidak sedang menjahiliku karena aku tidak tahu banyak tentang dunia ini ‘kan!? Setidaknya yang aku tahu ayahku tidak meminta pelayan di rumahku untuk melakukan hal seperti ini!”

“Beneran! Di negara asalku, pelayan yang tidak melakukan hal ini tidak cocok menjadi seorang pelayan!”

Aku terus masuk-keluar pintu depan wisma dan membuat Darkness menyapaku dengan senyum sambil berkata ‘Selamat datang kembali, tuan.’

“Hei, senyummu itu terlalu kaku! Ekspresimu juga kenapa kelihatan tidak bersahabat!? Nyeremin tahu! Senyum lebih imut sambil berkata ‘selamat datang kembali’!”

“Se-Selamat datang kembali, tuan!”

“Salah! Tanganmu itu seharusnya seperti ini! Kakinya seperti ini! Miringkan tubuhmu ke depan supaya bagian tubuhmu lebih mencolok! Hal yang bagus darimu itu tubuhmu yang erotis ‘kan!? Cepat, lakukan lagi!”

“Selamat datang kembali, tuan! Aku mungkin suka dihina, tapi kalau kamu sudah keterlaluan, hal lain yang bagus dariku, kekuatan cengkramanku akan…!”

“Aaahhhh, retak, kepalaku mau meledak! Rasanya mau ada sesuatu yang keluar! Maafkan aku!!”

Aku langsung berteriak minta maaf setelah pelipis kepalaku hancur oleh cengkraman besinya.

——————-

Bagian Ketiga

“Dasar. Kalau hukuman ataupun kejailannya lebih menyenangkan bagiku, aku tidak akan keberatan melakukannya padamu.”

“Kamu mungkin berkata seperti itu, tapi pada akhirnya nyalimu akan menciut sebelum kamu bisa melewati batasnya.”

Setelah bermain bersama Darkness, kami pergi jalan-jalan.

“Tapi, kau sendiri tidak terlalu menolak saat aku menyuruhmu memakai kostum maid. Sebaiknya kau coba memakai pakaian dengan banyak renda sekali-kali.”

Karena Darkness memohon padaku untuk tidak menyuruhnya memakai kostum maid saat kami pergi keluar, sampai dia menangis, aku memperbolehkannya memakai pakaiannya yang biasa.

“…Aku sendiri sadar apakah pakaian imut itu cocok atau tidak denganku. Karena itu, aku ingin memakai pakaian biasaku saat aku melakukan pekerjaan rumah besok…”

“Maaf saja, tapi aku tidak mau.”

Darkness nampak kecewa tapi dia menundukan kepalanya dengan senyum kecil di wajahnya. Tidak lama kemudian, kami sampai di toko yang kami tuju.

“Yo, permisi.”

“Ah, selamat datang, Kazuma-san! Kami baru saja membawa alat pembuat api yang Kazuma-san ciptakan!”

Kami tiba di toko Wiz.

Hari ini, mereka akan mulai menjual barang-barang praktis guna dari Jepang. Megumin yang sedang melihat barang-barang yang sudah jadi serta Aqua yang bisa dijinakkan setelah diberi cemilan teh juga ada di dalam toko.

Orang yang memiliki hawa keberadaan paling besar tidak ada di sini. Megumin yang menyadari keberadaanku langsung mengambil sebuah pematik lalu berteriak padaku:

“Kazuma, Kazuma! Cepat, tunjukkan padaku kekuatan item sihir ini!”

“Ini bukan item sihir, sudah kubilang ini benda praktis guna dari negara asalku! Nih, perhatikan baik-baik!”

Aku mengambil pematik dari tangan Megumin lalu menggunakannya.

“Oh!?” x3

Saat mereka melihat api yang aku hidupkan, Megumin, Darkness dan Wiz langsung berteriak terkejut.

“I-Ini benar-benar praktis! Sungguh, ini seperti sihir pembakar! Kazuma-san, barang ini pasti akan laris!”

Wiz melambai-lambaikan tangannya penuh rasa senang.

“Bentuknya sederhana, tapi ternyata cukup berguna. Sulit dipercaya kalau ini bukanlah item sihir. Selain itu, barang ini bisa tahan lama kalau tidak digunakan secara berlebihan.”

Megumin terkesan sembari memperhatikan pematik dari berbagai macam sudut. Dari komentar yang dia berikan, nampaknya dia benar-benar tertarik dengan benda ini.

“Aku juga mau satu. Batuapi tidak terlalu bisa digunakan di tempat basah, selain itu membuat api menggunakan batu juga menghabiskan banyak waktu. Membawa benda yang bisa dibakar itu merepotkan, menjaganya tetap kering juga susah. Benda ini bisa memecahkan semua masalah yang tadi aku sebutkan. Wiz, Kazuma, bisa kalian jual satu padaku? Berapa harganya?”

Darkness mengatakannya sambil merogoh dompetnya. Wiz langsung tersenyum saat mendengarnya.

“Kamu tidak perlu membayar kok. Soalnya, ini adalah alat yang Kazuma-san ciptakan, kami hanya memproduksinya saja. Semuanya juga membantu dalam pengembangannya. Pilihlah yang kamu suka.”

Saat Aqua melihat Darkness dan Megumin memilih pematik dengan senangnya setelah mendengar dari Wiz kalau mereka tidak perlu membayar, Aqua yang sedang memakan cemilan dengan sombongnya mengolok mereka.

“Dasar orang-orang gaptek. Cuma gara-gara pematik sampai sebegitu senangnya. Gampang tahu kalau cuma membuat sesuatu seperti itu. Orang-orang yang ketinggalan jaman tuh emang bener-bener deh…”

Aqua mengejek Wiz dan lainnya tanpa banyak peduli lalu mencoba mengambil sebuah pematik…

Aku langsung menampar tangannya.

“…Apa sih, Kazuma? Aku juga mau ambil satu.”

“Gak boleh, bayar dulu.”

Setelah aku menambahkan ‘cuma orang bego yang gak bayar kalau mau membeli sesuatu,’ Aqua langsung mendekatkan wajahnya.

“Huh!? Kenapa!? Kenapa cuma aku yang diperlakukan kejam seperti ini!? Wiz sendiri sudah bilang ‘kan kalau dia memberikannya kepada kita secara gratis!? Kenapa Darkness sama Megumin boleh sedangkan aku tidak!? Jangan kecualikan aku!”

“Boleh saja asalkan kau tidak menghina mereka bertiga. Lagipula, kau sendiri tidak ikut terlibat dalam pembuatan alat ini ‘kan? Wiz yang menjaga toko, Megumin membagikan pengetahuan tentang item sihir Klan Iblis Merahnya denganku, Darkness memperkenalkanku dengan banyak pedagang besar. Sementara kami melakukan semua itu, bukannya kau cuma diam di dalam wisma sambil makan terus tidur abis itu makan lagi? Kalau kau mau dapat bagian, cepat keluar lalu tarik perhatian orang-orang yang lewat supaya datang ke toko ini.”

Setelah Aqua mendengar ucapanku, dia langsung berlari keluar toko dengan air mata di matanya sambil berkata:

“Huwaaahh! Kazuma bodoh! Padahal aku berniat untuk merahasiakan kalau kamu diam-diam suka mengendus baju cucian kami!”

“Woi, tunggu! A-Aku tidak melakukan itu! Jangan bicara omong kosong, woi! …Dasar! Megumin, Darkness, jangan menatapku seperti itu… Hei, kenapa Wiz juga melakukannya!? Aku sudah difitnah!”

Sementara aku berusaha keras untuk memecahkan kesalahpahaman ini, Aqua yang barusan berlari keluar melongok ke dalam toko.

“…Kalau aku menarik perhatian banyak pelanggan, bisa kasih aku satu gak?”

“Iya, nanti aku kasih, tapi selesaikan dulu kesalahpahaman ini!”

—————————

Bagian Keempat

Jalan masuk menuju toko item sihir menjadi sangat ramai. Menurut Wiz, ini pertama kalinya orang sebanyak ini berkumpul di jalan di depan tokonya.

Sepertinya Vanir yang sampai sekarang belum muncul sudah menyebar berbagai macam berita tentang item yang ada di toko ini. Mungkin itu salah satu penyebab keramaian ini. Aku melihat beberapa orang yang memegang selembaran di antara kerumunan orang ini.

“…Tapi, bisa sampai ada sebanyak ini. Hebat sekali.”

“…Iya.”

Aku menjawab gumaman Darkness dengan santai.

“…Akan lebih baik kalau mereka semua yang datang ke sini mau membeli barang dagangannya…”

“…Iya.”

Aku menjawab omongan Megumin dengan lemas.

Aku melihat di pusat keramaian.

Wiz dengan wajah kebingungan menjawab dengan gugup:

“…Ba-Bahkan orang-orang yang tadinya datang untuk membeli langsung berlari ke arahnya…”

“Ahh, dasar! Ahhhh, apa sih yang cewek itu lakukaan!!”

Di hadapan kami, Aqua sedang melakukan trik pestanya dan langsung dihujani oleh teriakan dan tepuk tangan.

Bahkan orang yang datang karena selembaran yang dibagikan langsung lupa akan tujuan asli mereka dan asik menonton pertunjukannya.

Aku memang meminta dia untuk menarik minat orang-orang, tapi tidak sampai begini juga.

Aqua sudah lupa tujuan aslinya dan sedang menunjukan trik yang dia miliki dengan penuh semangat.

“Selanjutnya, dari selembar sapu tangan ini! Tiba-tiba saja, merpati akan terbang dari sapi tangan ini!”

Ucap Aqua sambil mengeluarkan selembar sapu tangan. Ini trik sihir yang umum. Menyembunyikan merpati di dalam pakaianmu, lalu membuatnya seakan keluar dari balik sapu tangan.

Aqua mengibaskan sapu tangannya, lalu dari sapu tangan itu…

“Uuoooohh!?” x4

Sekawanan merpati yang berjumlah lebih dari seratus terbang keluar, membuat para penonton terkejut.

“Banyak sekali! Tunggu dulu, bagaimana juga dia melakukannya!? Secara fisik itu mustahil!”

Aku mulai meragukan mataku dan bertanya pada Wiz yang ada di sampingku.

“E-Entahlah… Aku tidak merasakan mana yang keluar, jadi tadi itu seharusnya bukan sihir pemanggil, bukannya dia bisa menyembunyikan merpatinya di suatu tempat… Eh, kalau begitu bagaimana dia bisa…?”

Bahkan Wiz, sang ahli sihir menaruh tangannya di pipinya dan mulai berpikir.

“Ah, jangan memberiku uang. Aku ini bukan pengemis, jadi tidak usah memberiku uang.”

Aqua dengan serius menolak uang yang dilemparkan oleh para penonton. Dia memiliki prinsip yang ia pegang teguh setiap kali melakukan triknya. Ngomong-ngomong, dia bisa saja mendapatkan penghasilan yang lumayan dengan hanya melakukan pertunjukan di jalan.

Aku hanya bisa diam seribu kata, dan tanpa sadar, aku sudah ada di tengah kerumunan orang karena pertunjukan Aqua yang hebat.

“A-Apa-apaan pemandangan nan menyedihkan ini…”

Vanir yang baru saja kembali langsung menatap ke arah kerumunan. Aqua yang berdiri di tengah kerumunan mengeluarkan banyak ramuan yang sepertinya berasal dari tokonya Wiz.

“Selanjutnya, aku akan berhitung satu sampai tiga, lalu semua ramuan ini akan hilang seketika! Aku sendiri tidak tahu kemana semua ramuan ini akan hilang! Ok, aku akan mulai menghitung!”

“Hitung apanya dasar dungu! Apa yang sebenarnya dirimu lakukan!? Apa dirimu belum puas setelah menaburkan air suci pada gagang pintu toko kami? Apa dirimu akhirnya ingin mengganggu bisnis diriku ini secara terang-terangan!?”

Nih orang, rupanya itu yang dia lakukan saat dia pergi jalan-jalan keluar.

“Jangan menggangguku dasar pria bertopeng aneh! Ini jalanan umum, memangnya masalah kalau aku melakukan pertunjukanku di sini!?”

“Tentu saja, otak udang! Diriku mempertaruhkan masa depan toko ini pada hari ini di mana kami memulai penjualan produk baru kami! Diriku tidak punya waktu untuk mengurus dirimu yang mencoba mengganggu bisnis kami!”

Wiz mengabaikan mereka berdua yang saling meneriaki satu sama lain tanpa peduli kerumunan orang yang ada, lalu berteriak:

“Para pelanggan, kami punya banyak alat praktis guna yang masih tersedia! Silahkan dilihat-lihat!”

Ini pertama kalinya aku melihat Wiz bersikap seperti seorang pemilik toko!

–Meski berbagai macam hal yang terjadi.

“Ayo ayo, selamat datang! Pelanggan yang melakukan pembelian dengan total sepuluh ribu Eris akan menerima sebuah boneka Vanir yang dapat tertawa di tengah malam sebagai hadiah! Pelanggan yang melakukan pembelian lebih dari atau sama dengan lima ribu Eris, berbahagialah–! Anda tetap dapat menerima hadiah! …Oh, pria kecil, topeng diriku ini tidaklah untuk dijual. Maaf, silahkan ambil kartu bersinar ini untukmu… Silahkan kemari, selamat datang!”

Pegawai toko mencurigakan yang berteriak dengan lantang ini ternyata terkenal di kalangan anak-anak.

“Terima kasih sudah berkunjung, terima kasih sudah berkunjung! Ah, dua pematik dan satu topeng Vanir? Terima kasih banyak sudah membeli!”

Alat praktis guna dari Jepang terjual laris. Penjualannya benar-benar meroket. Kalau aku tahu bisa selaris ini, aku seharusnya memulai usaha seperti ini sejak dulu.

“Lepaskan aku, Darkness! Dia mengira kalau aku mencuri pelanggannya, bikin kesel tahu! Biarkan aku melakukan pertujukanku!”

“Tenang dulu, Aqua. Kamu sudah lupa tujuanmu! Sudah, diam di sini dan jadi anak yang baik yah!”

Darkness menahan Aqua yang ingin mengganggu bisnis toko sementara Wiz dan Vanir menyibukkan diri mereka dengan melayani para pelanggan.

Saat jumlah pelanggan akhirnya mulai berkurang, Vanir yang nampak bahagia berjalan ke arah kami.

“Fuhahahaha! Diriku tidak bisa berhenti tertawa menyaksikan semua ini! Lihatlah, jam tutup toko ini masih jauh. Namun, barang dagangannya sudah hampir habis terjual. Izinkan diriku untuk kembali berterima kasih padamu, bocah yang menikmati suasana bersama kawanmu saat kalian pergi keluar kota, tetapi merasa tidak enak hati karena pada akhirnya tidak ada kemajuan di antara kalian!”

“Hei, yang kau maksud itu aku!? Aku ‘kan!? Ja-jangan bicara omong kosong, a-a-aku tidak merasa tidak enak hati kok! A-apa sih, Megumin, jangan terus-terusan menatap ke arahku!”

Hal yang selalu aku pikirkan setelah kembali dari Desa Klan Iblis Merah bisa ia sahut dengan mudahnya!

“Tidak apa bila kalian berdua menikah lalu memiliki seorang bayi, tapi menyebalkan jua melihat kalian berdua saling mencuri pandang satu sama lain. Jadi, sebaiknya kalian pergi ke penginapan atau tempat gelap untuk menyelesaikan urusan kalian – Hmm, tapi yang lebih penting.”

Orang ini benar-benar… Apa sebaiknya aku menyuruh Aqua untuk menghabisinya?

“Kalau keadaannya terus seperti ini, tiga ratus juta Eris yang berhak dirimu terima akan siap akhir bulan nanti. Diriku tahu ini tidaklah banyak, tapi anggaplah ini sebagai kompensasi karena sudah membuatmu menunggu lama.”

Vanir mengatakannya sambil memberikanku sebuah topeng hitam yang desainnya sedikit berbeda dari yang dia pakai.

“Ini adalah salah satu barang laris di toko kami, topeng Vanir yang diproduksi secara masal yang sangat populer di kalangan banyak orang. Bila dirimu memakainya di bawah cahaya rembulan, manamu akan bertambah, metabolismemu akan meningkat serta kulitmu akan berkilau terang berkat kekuatan misterius dari sang iblis. Ini adalah sebuah topeng hitam langka di antara semua produk yang ada, sehingga dirimu bisa menyombongkannya pada anak-anak.”

A-Aku tidak menginginkannya… Apa aku akan terkena kutukan kalau aku memakai topeng ini?

————————

Bagian Kelima

Sejak hari itu, toko Wiz menjadi sangat ramai.

Dan akhirnya, hari ini–

“Jadi, kalian semua sudah mengerti ‘kan?”

Ya. Hari ini kami akan makan bersama dengan tuan Putri. Saat Darkness tidak ada di ruang tamu, aku memberitahu Aqua dan Megumin kalau kita tidak boleh menodai nama keluarga Darkness.

“Tentu saja. Ini kesempatan langka. Aku tidak akan mempermalukan Darkness, jadi biarkan aku melakukan trik pestaku yang selama ini sudah aku tahan untuk memeriahkan suasana! …Kazuma, aku mau mengeluarkan seekor singa dari dalam topi, tapi tidak ada singa di sini. Pembunuh Rookie bisa jadi penggantinya, bisa tidak kamu tangkapkan satu untukku?”

“Aku akan menggunakan penampilan mewah ala Klan Iblis Merah untuk memberikan tuan Putri kejutan yang menarik. Kazuma, aku perlu sesuatu yang bisa menghasilkan banyak asap dan juga bubuk mesiu. Kira-kira aku bisa membelinya di mana?”

…Kekhawatiran Darkness bisa dijamin.

–Wisma keluarga Dustiness.

Wisma terbesar di kota Axel tengah dijaga ketat. Jumlah pelayan yang tadinya sedikit langsung ditambah, mungkin untuk memberi kesan mewah. Wajar saja, Putri pertama negeri ini, Iris, sudah menginjakkan kakinya di wisma ini sejak kemarin.

Di depan pintu masuk wisma keluarga Dustiness, mengenakkan gaun putih bersih dengan rambut pirang panjangnya yang dikepang dengan indahnya dan tergelar di atas pundaknya, Darkness muncul di hadapan kami.

Dia memang mengenakkan gaun putih yang bersih dan nampak suci, tapi gara-gara orang yang mengenakannya justru menjadi terlihat erotis.

“Satou Kazuma-sama serta kalian berdua. Kami merasa terhormat atas kunjungan kalian. Hari ini, Saya, Dustiness fon Lalatina akan menjadi pemandu kalian semua. Anggaplah rumah ini sebagai rumah kalian sendiri dan silahkan nikmati kunjungannya.”

Darkness yang benar-benar nampak seperti seorang gadis bangsawan berdiri di depan para pembantu rumahnya lalu membungkuk kepada kami setelah salam formal yang barusan dia lakukan.

Setelah sambutan yang nampak seperti sebuah upacara itu, kami tidak tahu bagaimana harus bersikap.

“Te-Telima ka…”

Belum apa-apa aku langsung salah bicara. Setelah mendengar apa yang aku katakan, Darkness yang baru saja tersenyum lembut langsung menundukkan kepalanya dengan wajah memerah. Pundaknya bergetar, sepertinya dia berusaha menahan tawanya.

Si-Sialan…!

Aku seharusnya tidak melakukan sesuatu yang tidak biasa aku lakukan.

“Hei Darkness, cepat berhenti tertawa dan tuntun kami. Pakaian ini benar-benar ketat dan tidak nyaman.”

Aku memakai setelan kemeja hitam yang aku sewa dari toko jahit. Aku seharusnya memakai dasi kupu-kupu sebagai pelengkap, tapi Aqua dan Megumin malah menertawaiku saat aku mengenakannya, sehingga aku memutuskan untuk tidak akan pernah mengenakannya lagi.

Aqua dan Megumin tidak punya waktu untuk membuat gaun sehingga mereka meminjam milik Darkness.

“Semuanya, silahkan ikuti Saya.”

Pundak Darkness terus bergetar selagi dia menuntun kami ke dalam wisma.

“–Tolong tunggu di sini sebentar. Nona muda sedang memilih gaun yang akan kalian kenakan.”

Para pelayan membawa kami ke ruang resepsi. Kami duduk di sofa yang ada. Pelayan itu kemudian membuatkan kami teh lalu pergi dari ruangan ini supaya kami bisa menikmatinya dengan tenang.

Beberapa saat kemudian, Darkness datang bersama dengan beberapa pelayan lain yang membawa gaun. Mereka membungkuk kepada kami lalu berdiri di dekat pintu–

Darkness lalu melambai ke arah Aqua dan Megumin, menyuruh mereka untuk pergi bersamanya.

Aqua dan Megumin pergi mengikuti Darkness lalu mereka masuk ke ruang sebelah, lalu…

“Darkness, bagian pinggangnya longgar nih. Ada yang lebih ketat gak?”

“Ga-Gaun itu sudah yang paling kecil ukuran pinggangnya… Mau bagaimana lagi, seorang Crusader butuh otot…! Ada apa, Megumin?”

“…Bagaimana yah… Bajunya kedodoran. Bagian pinggang dan dadanya terlalu longgar. Apa ada yang lebih kecil…”

Aku mendengar mereka bertiga mengobrol dari ruang sebelah.

“Yah, aku punya yang lain sih, tapi yang satu ini aku pakai saat aku masih kecil… Adudududuh! Megumin, jangan menarik kepangku!”

Mereka kemudian berbicara pada pelayan yang ada, yang sepertinya sedang menjahit gaunnya di sana…

Akhirnya, Darkness membawa keluar kedua gadis yang nampak lelah keluar dari ruangan itu.

“…Wah.”

Setelah mendengarku, Megumin langsung bersikap malu dan menundukkan kepalanya. Dengan pundaknya yang terbuka, kulit putihnya yang nampak mulus jadi terlihat. Berkat gaun hitamnya yang nampak kontras dengan warna kulitnya, dia terlihat berbeda dari penampilan Lolinya yang biasa, kini dia terlihat sangat elegan.

Aqua yang memakai gaun putih mengikuti mereka dari belakang.

“Kazuma, lihat deh, lihat. Bagaimana? Ini nih namanya ‘pakaian melambangkan pemakainya.'”

Ini bukan pujian sih, tapi gaun ini cocok untuk Aqua.

Bukan pakaian biru dan Hagoromo yang biasa ia pakai, tetapi sebuah gaun putih nan bersih, dia terlihat sangat indah sehingga rasanya tidak aneh kalau ada orang yang memujanya kalau dia menutup mulutnya rapat-rapat.

“Kazuma, dengan gadis cantik sebanyak ini di depanmu, tidak ada salahnya ‘kan kalau kamu memberikan satu atau dua pujian kepada kami?”

Ya, kalau saja dia mau menutup mulutnya.

“Iya, kalian memang cantik. Tapi, yang paling penting tetap sang Putri. Dia sudah ada di sini sejak kemarin yah?”

Mendengarkan pertanyaanku yang bernada penuh harap, Darkness langsung memasang ekspresi sangat khawatir.

“…Aku serius, jangan membuat masalah, mengerti? Soalnya, terkadang kalian suka mengatakan hal-hal aneh. Sebagai seorang petualang yang sering bertarung sebagai pekerjaannya, mereka mungkin akan memberi sedikit kelonggaran. Tapi, kamu tetap saja bisa kehilangan kepalamu kalau kamu mengucapkan sesuatu yang tidak baik.”

Harapanku semakin tinggi setelah mendengar ucapan Darkness. Yang Mulia Putri. Ya, Putri kerajaan. Cantik dan pendiam, seorang Putri yang menyukai kupu-kupu dan burung-burung kecil.

Tunggu dulu, karena dia suka cerita para petualang, mungkin saja dia itu periang.

Tim kami yang selalu gagal dalam segala macam hal akhirnya bisa naik daun sampai-sampai pihak kerajaan datang mengundang kami. Wajar saja kalau aku jadi bersikap seenaknya.

“Dengar yah, biar aku katakan hal ini dulu. Aku benar-benar tidak ingin meninggalkan wisma kita. Meski aku sudah tinggal begitu lama di sini dan sangat suka tinggal di sini… jika tuan Putri memintaku untuk menjadi bagian pasukan pengawalnya atau semacamnya, aku akan berpikir untuk pindah. Jadi sebaiknya kalian mempersiapkan mental kalian.”

“Bagaimana bisa hal ini berjalan sampai sejauh itu? Bukankah sudah ‘ku bilang kalau kita hanya akan makan malam bersama?”

Dengan dituntun oleh Darkness, kami berjalan menuju tempat untuk bertemu sang Putri.

Dan akhirnya, kami tiba di depan ruangan besar yang digunakan untuk jamuan makan malam.

Darkness kembali berbalik ke arah kami.

“Ok, dengar baik-baik. Dia adalah Putri sebuah negara… Kazuma, kamu punya banyak kekurangan, tapi kamu masih punya akal sehatmu, jadi aku tidak perlu terlalu mengkhawatirkanmu. Bahkan aku sudah berdandan seperti seorang pelayan dan melayanimu, jadi jangan kira kamu bisa lari kalau kamu mengacaukan semua ini. Aqua, jangan lakukan pertunjukanmu secara berlebihan, terutama yang berbahaya, jangan lakukan itu. Dan Megumin… aku akan menggeledahmu sekarang!”

“Eh!? Tu-Tunggu sebentar, Darkness! Kenapa cuma aku!? Memangnya kamu mau mencari apa? Kita ‘kan ganti baju di ruangan yang sama…! Ahh, tunggu, Kazuma melihat! Tuh, Kazuma menggunakan kesempatan ini untuk melihat tubuhku!”

Aku memperhatikan mereka berdua yang sedang bergulat lalu bertanya pada Aqua:

“Trik seperti apa yang akan kau tunjukan?”

“Apa maksudmu dengan trik, dasar tidak tahu diri. Jarang-jarang kita bisa bertemu bangsawan, tapi tentunya tuan Putri akan merasa bosan kalau aku menunjukkan pertunjukanku yang biasa. Aku berencana untuk membuat lukisan secara langsung di hadapannya… lebih tepatnya, sebuah lukisan pasir. Kemudian aku akan memberikan lukisan itu kepadanya sebagai sebuah hadiah.”

“Hmm, kau memang tahu banyak hal yah…”

Selagi kami sedang mengobrol…

“Hah, nih! Apa ini, Megumin!? Bom asap untuk mengusir monster, juga ada ramuan yang akan meledak setelah kamu membukanya! Apa yang mau kamu lakukan dengan benda-benda ini!? Pantas saja dadamu terlihat besar!”

“Kamu hebat juga, Darkness. Tapi, aku masih punya cara kedua dan ketiga untuk membuat perkenalan diri yang luar biasa…!”

Melihat mereka berdua yang terus-menerus bergulat, pelayan yang sedari tadi terus bersama kami sejak mereka memilihkan kami gaun hanya bisa mengeluarkan nafas panjang.

“…Apa kami akan terbawa ke dalam masalah ini…?”

Aku juga berpikir seperti itu.

———————————

Bagian Keenam

“…Baiklah, ayo kita masuk. Dengar, aku yang akan melayani Yang Mulia Iris, kalian hanya perlu makan sambil mengangguk-angguk. Aku akan menjelaskan semuanya padanya.”

Ucap Darkness sambil menuntun kami dari depan lalu membukakan pintunya.

Tempat yang luas, sebuah ruang jamuan kelas atas yang tidak terlalu mewah. Ruangannya disinari oleh cahaya lilin dan cukup terang.

Beberapa pelayan mengelilingi meja dari jarak yang cukup jauh, menanti dengan tenang. Ruangan ini diselimuti oleh karpet merah.

Sebuah meja besar dengan berbagai macam makanan mewah ditempatkan di tengah ruangan yang diselimuti karpet ini.

Di ujung meja sana adalah seorang gadis dengan pakaian serba putih seperti Aqua dan Darkness.

Di kedua sisi gadis itu berdiri dua orang wanita muda.

Salah satunya memakai gaun hitam dan tidak bersenjata, serta terlihat sederhana. Kalau dilihat dari cincin dengan ujung tajam yang bersinar di jari-jemarinya, dia mungkin seorang mage.

Sementara wanita yang satunya tidak memakai gaun, melainkan sebuah kemeja putih. Seorang wanita cantik berambut pendek dengan pedang di pinggangnya.

Mungkin tidak cocok bagi seorang Putri untuk memiliki ksatria pria sebagai pengawalnya, karena itulah pengawalnya itu adalah wanita.

Darkness perlahan menuntun kami menuju mereka bertiga.

“Maaf sudah membuat Anda menunggu, Putri Iris. Mereka adalah kawanku, dan juga kawan berpetualangku, Satou Kazuma dan anggota timnya. Kemari, kawanku. Ia adalah Putri pertama kerajaan, Yang Mulia Iris. Silahkan perkenalkan diri kalian dengan selayaknya.”

Ucapnya sambil memberi salam pada gadis muda yang ada di tengah.

Dia memang seperti yang ‘ku harapkan dari seorang Putri.

Rambut keemasan yang agak panjang dengan mata biru yang jernih.

Memberikan kesan bila dia memang seorang bangsawan, seorang gadis cantik dengan hawa serasa bagai berasal dari negeri dongeng ada di hadapanku.

Ini sangat berharga, sebuah pengecualian langka di mana dunia fantasi ini sesuai dengan harapanku.

Peri yang memakai telinga palsu, cebol tanpa jenggot, orc bertelinga kucing, dan seorang lich yang menyedihkan.

Setelah melihat berbagai macam orang aneh, aku merasa khawatir kalau-kalau yang muncul ternyata seorang Putri yang aneh.

Sementara aku sedang merasa tersentuh dan melamun, Aqua dengan lembutnya mengangkat kedua sudut gaunnya dan membungkuk hormat dengan sempurna.

Saat kami melihat dia seperti itu, bukan hanya aku, bahkan Darkness langsung terdiam–

“Saya seorang Arch Priest, Aqua. Senang bertemu dengan Anda… Ok, biar aku berikan sebuah pertunjukan sebagai salam…”

Aqua hampir saja melakukan sebuah trik sebelum Darkness memegang tangannya.

“Sa-Saya permisi sebentar, Putri Iris. Ada sesuatu yang ingin Saya katakan pada kawan Saya…”

Aqua menarik kepang Darkness dan mengeluh sambil ditahan oleh Darkness.

Menggunakan kesempatan selagi Darkness sedang mengurusi Aqua, Megumin langsung mengambil sesuatu dari gaunnya.

Dengan sigap dia mengeluarkan sebuah mantel hitam.

Sepertinya dia mengikatnya di pahanya untuk menyembunyikannya dan tidak ketahuan saat Darkness melakukan pemeriksaan.

Setelah Megumin membuka mantelnya sambil mengibaskannya lalu memakainya di atas pundaknya dan hampir saja memperkenalkan dirinya dengan luar biasa, tangannya langsung dipegang oleh Darkness.

Dengan satu tangan memegang Aqua dan tangan lainnya memegang Megumin, Darkness mencoba tersenyum selagi Aqua mengelus-elus kepangnya dengan penuh rasa senang, sayangnya Darkness kelihatan sudah mau menangis.

Aqua sepertinya menyukai rasanya saat meraba kepang Darkness di tangannya dan tidak ingin berhenti mengelus-elusnya.

…Sementara itu, tuan Putri melihat ke arahku lalu berbisik pada pengawal wanitanya yang memakai kemeja putih.

Mungkin dia merasa malu.

“Rakyat biasa, jangan melihat ke arah Yang Mulia dengan tatapan menjijikan itu. Biasanya, orang seperti kalian itu tidak akan pernah bisa makan malam bersama dengan Yang Mulia karena perbedaan status di antara kita. Tundukkan kepalamu, jangan menatapku. Cepat beri salammu lalu ceritakan petualanganmu… Itu yang tuan Putri katakan.”

Saat wanita berkemaja putih itu mengatakannya, aku langsung terdiam.

Namun, beberapa saat kemudian aku jadi mengerti.

Di zaman samurai di Jepang, karena perbedaan status antara tuannya dengan bawahannya, mereka tidak akan makan di meja yang sama dan akan makan di waktu yang berbeda.

Menyuruh wanita berkemaja putih untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan mungkin supaya dia tidak perlu saling mengobrol dengan orang yang memilik status lebih rendah darinya.

Aku merasa biasa saja dengan bangsawan karena Darkness dan ayahnya, tapi hal seperti ini adalah sesuatu yang wajar terjadi di kalangan bangsawan dan kerajaan.

Ok, aku mengerti… Aku langsung berkata:

“Aku minta ganti dong.”

“Yang Mulia Iris, Saya mohon tunggu sebentar saja! Kawanku menjadi gugup karena mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Anda, izinkan Saya untuk berbicara dengan mereka sejenak…!”

Tanganku ditarik Darkness ke pojok ruangan.

“Kau, dasar bodoh! Apa maksudnya ‘ganti’!? Kamu pikir kenapa aku sampai rela dihina dan harus melayanimu!? Bukan ini yang sudah kita sepakati!”

Dengan Darkness di depanku yang sudah siap mencekikku kapan saja, aku menyanggah omongannya sambil menarik kepangnya.

“‘Apa maksudnya’ dan ‘bukan yang kita sepakati’ harusnya itu omonganku! Ngobrolin soal si tuan putri seperti apa itu sudah membuat ekspektasiku tinggi, tapi apa maksudnya ini!? Jalan cerita yang aku ingikan itu seperti… ‘Saya ingin melihat dunia luar! Wahai petualang pemberani, izinkan Saya untuk mendengar kisah petualanganmu!’ Tapi yang ada malah jamuan seperti ini! Apa mereka memandang rendah diriku!?”

“Hei, tutup mulutmu…! Uhh, kenapa hari ini kalian semua menarik-narik rambutku terus…! Emm… ja-jangan di tempat seperti ini, hal seperti ini sebaiknya kita lakukan kalau kita hanya sedang berdua saja…!”

Aku menunjuk ke arah tuan Putri lalu berkata kepada Darkness yang mulai bicara ngawur:

“Ngomong-ngomong, sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Apa tidak apa-apa kalau kita membiarkan dia?”

Di arah jari telunjukku mengarah, Aqua sedang melukis di atas selembar kertas dengan lem, lalu menaburkan pasir di atasnya.

Sebuah lukisan pasir berkualitas tinggi kemudian selesai dalam sekejap mata.

Orang bisa saja keliru mengira lukisan itu sebagai poto hitam-putih jika dilihat dari jauh…

“Untuk merayakan hari dimana kami bisa menemui tuan Putri, Saya persembahkan kepada Anda lukisan ini. Lukisan ini pun menggambarkan noda saus kecil di ujung bibir Anda dengan sempurna…”

Saat Putri mendengar perkataan tidak penting Aqua, dia langsung menyeka tepi mulutnya.

“Yang Mulia Iris, Saya akan segera mengusir orang-orang tidak tahu diri ini, tunggu sebentar!!”

Darkness langsung berteriak sambil mengangkat sedikit kedua sisi ujung roknya lalu berlari.

Saat Putri mendengar teriakannya, dia berbisik kepada wanita berkemeja putih di sampingnya.

“Karena Putri bisa melihat Lalatina yang biasanya tenang dan pendiam bertingkah begitu kacaunya, dia tidak akan menyingkut masalah yang baru saja terjadi. Wajar bila petualang bersikap agak kasar. Yang lebih penting, cepat ceritakah kisah petualangan kalian, itu yang diucapkan Putri.”

Sementara wanita berkemeja putih itu mengucapkan kalimat Putri, tuan Putri melirik ke arah Aqua yang berusaha keras melindungi lukisan pasirnya dari tangan Darkness sambil tersenyum bahagia.

Darkness membungkuk begitu dalam kepada Putri–

“Mohon maafkan Saya, Putri Iris! Bagaimana Saya mengatakannya… mereka bertiga jugalah petualang yang paling sering membuat masalah di kota ini!”

Selagi Darkness sedang berusaha sekeras mungkin untuk menjelaskan situasi saat ini, Aqua memberikan lukisan pasirnya kepada tuan Putri lalu berkata “Untukmu.”

Saat Putri melihat lukisan pasir itu ekspresinya langsung berubah menjadi terkejut lalu berbisik kepada wanita berkemaja putih.

“Mampu menggambar lukisan pasir yang begitu sempurna dalam waktu yang begitu singkat…! Mengagumkan, sungguh mengagumkan! Izinkan Saya untuk memberimu hadiah! Itu yang diucapkan Putri.”

Setelah mengatakannya wanita berkemeja putih itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantungnya lalu memberikannya kepada Aqua.

Sebuah batu kecil yang berkilau.

Meski mataku tidak biasa menilai batu berharga seperti itu, tapi aku tahu bila batu berkilau itu pasti berharga tinggi.

Aqua lalu memegangnya dengan jempol dan jari tengahnya, menerawangi batu itu dengan penuh rasa senang.

Darkness yang menundukkan kepalanya karena merasa malu duduk di sebelah kanan Putri.

Megumin dan Aqua duduk di samping Darkness.

Putri menggerekkan tangannya, menyuruhku untuk didik di samping kirinya.

Tuan Putri menatapiku yang baru saja duduk di sampingnya seperti yang dia minta lalu berbisik kepada wanita berkemeja putih.

“Apa Anda orang yang disebut oleh pengguna pedang sihir Mitsurugi? Izinkan saya untuk mendengar kisahmu, itu yang Putri ucapkan… Saya pun ingin mendengar bagaimana Anda bisa mengalahkan Mitsurugi.”

Apa Mitsurugi terkenal di kerajaan?

Selain itu, apa yang dia katakan tentangku?

Sambil dihujani dengan tatapan penuh ekspektasi dari wanita berkemeja putih dan Putri, aku mulai mengingat-ngingat kejadian itu…

——————————

Bagian Ketujuh

“Sebuah inspirasi langsung menyambar pikiranku lalu aku pun membuat perangkat. Aku melepas segelnya supaya bisa mengunci Sylvia di dalam ruangan itu! Kemudian, aku pun bisa menciptakan waktu yang cukup supaya para Klan Iblis Merah bisa berkumpul kembali!”

“Hebatnya! Saya sudah sering mendengar berbagai macam kisah petualangan, tetapi Anda satu-satunya orang yang bertarung seperti ini! Selain itu, ini pertama kalinya Saya mendengar kisah-kisah menyentuh yang begitu penuh dengan kejutan! Kisah para petualang lain hanya menjelaskan bagaimana mereka dengan sigapnya membasmi monster, atau bagaimana mereka mengalahkan naga yang ada di atas gunung hanya dengan sebilah pedang… Kisah-kisah yang Saya pernah dengar selama ini memang mengagumkan, tetapi semuanya hanya tentang bagaimana sang pahlawan membabi-buta lawannya…! Itu yang diucapkan Putri.”

Putri mendengarkan kisah petualanganku dengan mata berbinar seperti anak kecil.

Seseorang yang punya status tinggi mendengarkan perkataanku dengan penuh harap-harap.

Dalam situasi seperti ini, aku tidak bisa menahan diriku untuk bersikap sedikit sombong.

“…Dasar, yang dikatakan cowok ini cuma omong kosong semua.”

Ucap Aqua yang duduk di hadapanku dengan suara pelan.

Tanpa memperdulikan ucapan penonton aku lanjut bercerita.

“Yang Mulia, itu karena para petualang lain itu mengalahkan lawan yang memang mereka bisa kalahkan. Saya tidak bermaksud bila apa yang mereka lakukan itu salah, tetapi mereka jelas-jelas berbeda dengan Saya yang bertarung dengan lawan yang jauh lebih kuat dari diri Saya karena Saya selalu berusaha untuk membuat diri Saya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi setiap harinya.”

“Sungguh seorang teladan! Karena Anda selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan Anda, bagaimana Anda menghabiskan waktu luang anda…? Putri penasaran dengan hal itu… Saya pun ingin tahu, bagaimana orang seperti Anda menghabiskan waktu Anda sehari-hari?”

Aku pun berkata pada Putri dan wanita berkemeja putih yang terkesan denganku:

“Yah… Saya biasanya beristirahat di rumah saat siang, lalu pergi keluar saat malam tiba. Kemudian Saya akan pergi berpatroli di sekeliling kota dengan tenangnya dan membantu menegakkan hukum.”

Aku tidak terlalu banyak memakan hidangan yang disajikan, hanya meminum minuman yang disediakan sambil bercerita.

Dari sisi lain meja, aku bisa mendengar gumamam Megumin.

“Aqua, orang ini cuma malas-malasan setiap harinya dan menganggap hidupnya yang menyedihkan dan cuma suka mondar-mandir sebagai berpatroli.”

“Shh, udah liatin aja. Orang ini nantinya bakal kelewat sombong dan kena getahnya sendiri.”

Aku mendengar apa yang Aqua katakan, tapi tentunya aku bukan orang bodoh.

Aku hanya mengatakan hal-hal itu setelah memperhatikan ekspresi dan reaksi Putri.

Saat aku melirik ke arah Darkness, dia sedang menundukkan kepalanya karena malu, entah karena alasan apa, sementara Megumin mengelus-elus kepangnya.

Megumin juga suka rasanya saat mengelus kepang Darkness.

Darkness sadar bila mereka akan diam bila dia membiarkan mereka bermain-main dengan kepangnya, jadi dia membiarkan Megumin melakukan semaunya.

Putri lalu mengeluarkan napas panjang setelah mendengar perkataanku lalu berbisik ke telinga wanita berkemeja putih.

“Sungguh seorang petualang yang aneh. Anda benar-benar berbeda dengan petualang lain yang pernah Saya temui. Apa yang Anda lakukan sebelum menjadi petualang? Itu yang diucapkan Putri.”

Pekerjaanku sebelumnya yah…

Aku pun mengenang kehidupanku di Jepang lalu berkata:

“Sebelum Saya datang ke negeri ini, pekerjaan Saya ialah menjaga rumah keluarga Saya. Saya melatih kemampuan Saya setiap hari, melindungi rumah Saya dari krisis serta bencana. Pekerjaan menyedihkan yang tidak akan bisa dimengerti dan dihargai oleh siapapun…”

Setelah mereka mendengar perkataanku,

“Hmm, pekerjaan yang seperti penjaga kastil di ibu kota yah? …Mereka pun sama, tidak terlalu dihormati. Tapi, bila sang penjaga sedang diam saja itu jugalah bukti bila ibu kota dalam keadaan damai. Sehingga Anda pun secara tidak langsung telah melindungi rumah keluarga Anda dari bahaya.”

aku langsung mengangguk setelah mendengar ucapan wanita berkemeja putih.

“Saya harus berurusan dengan orang yang memaksa Saya untuk menandatangani kontrak, memberitahu Saya ‘hanya untuk tiga bulan.’ Saya juga mengusir orang yang mengincar harta Saya dan banyak hal lain yang terjadi.”

Ya, penjual koran dan pemungut iuran televisi.

Wanita berkemeja putih terkejut kemudian berbisik pada Putri:

“Memaksanya untuk menandatangani kontrak… Dia pasti mengalahkan iblis… Harta… Mungkin itu adalah bandit…”

Aqua yang selama ini mendengarkan pembicaraanku menatapku seakan dia ingin mengatakan sesuatu.

Meski aku sudah melirik ke arah lain untuk menghindari tatapannya, dia tetap berusaha menatapku.

Gak, aku gak bohong kok. Jangan menatapku seperti itu.

——————————

Bagian Kedelapan

Semua yang hadir sedang menikmati makanan yang dihidangkan, membuat obrolannya berhenti sejenak.

Wanita berkemeja putih tiba-tiba saja berkata padaku yang mulai bersikap seenaknya.

“Sulit dipercaya bila Anda berhasil menang melawan pahlawan berpedang sihir, Mitsurugi… Maaf bila Saya lancang, boleh Saya melihat kartu petualang anda? Saya ingin menggunakan skill yang Kazuma-san miliki sebagai refrensi…”

Dia mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku duga.

Kartu petualangku ini bisa membuat keributan kalau sampai dilihat orang lain.

Aku bisa kena masalah kalau mereka menanyakan darimana aku mempelajari skill lich.

Megumin menyadari kekhawatiranku–

“Emm, bagi kami para petualang, informasi tentang diri kami itu bersifat cukup pribadi– Jadi, meski kamu seorang pengawal Putri…  Ahh, dari pada itu, Aqua, kemeriahan pestanya mulai redup, sudah waktunya kamu menunjukan trik pesta rahasiamu…!”

Dia mencoba mengganti topiknya untuk melindungiku.

Sementara Aqua…!

“…? Aku sudah menggambar sesuatu yang bagus hari ini, jadi itu saja cukup deh. Megumin, kamu pengen banget menonton pertunjukanku yah? Gak apa deh, aku akan menunjukannya padamu besok kalau aku lagi pengen. Hei, aku minta anggurnya lagi dong!”

Hari ini Aqua pun dengan mengagumkannya tidak bisa membaca situasi yang ada, bahkan malah meminta pelayan untuk membawakan anggur lagi.

Wanita berkemeja putih memiringkan kepalanya, merasa curiga.

“Kami bukan petualang seperti kalian, tetapi bangsawan dari kerajaan. Kami tidak akan membeberkan hal-hal mengenai Kazuma-dono tanpa sadar. Menggunakan skill yang dimiliki Kazuma-dono sebagai refrensi akan meningkatkan potensi bertarung pasukan kerajaan, yang pada tujuannya akan membantu untuk mengalahkan raja iblis. Apa anda bisa membantu kami untuk memperkuat kekuatan kerajaan? Atau ada alasan lain kenapa Anda tidak ingin menunjukkan kartu petualang Anda kepada Saya?”

Memang benar kalau ada alasan kenapa aku tidak bisa menunjukannya kepada orang lain.

Pada saat itu,

“Pria ini memiliki job terlemah, petualang. Dia mungkin memiliki masalah dengan hal itu sehingga tidak ingin orang lain mengetahuinya. Apa Anda bisa mengindahkannya sebagai permintaan dari Saya?”

Darkness mengucapkannya sambil tersenyum pada wanita berkemeja putih.

“Ya, itu benar. Saya tidak mengatakannya sebelumnya, tapi sebenarnya Saya memiliki job terlemah. Ah, memalukan sekali, rahasia Saya ketahuan.”

Melihatku menggaruk-garuk kepalaku, sikap wanita berkemeja putih itu berubah penuh kekecewaan.

“Jadi Anda memiliki job terlemah… Apa Anda benar-benar sehebat yang Anda ceritakan? Anda berkata bila Anda menang melawan Mitsurugi, tetapi apa itu benar adanya? Bila memang begitu, tolong ceritakan bagaimana Anda bisa menang melawannya.”

Dia bersikap sopan, tapi ucapannya jelas-jelas menunjukan keraguan.

Aku menang melawan Mitsurugi dengan mencuri pedangnya lalu melakukan serangan secara diam-diam, aku tidak bisa mengatakan cara kemenanganku yang benar-benar licik itu.

…Putri kemudian menarik kemeja wanita berkemeja putih.

Lalu berbisik padanya sambil menatapku.

Mulut wanita berkemeja putih bergerak seakan dia merasa tidak enak dengan apa yang dia dengar.

“…Emm… Sulit dipercaya bila si tampan Mitsurugi bisa kalah oleh seseorang yang memiliki job terlemah. Apa Anda ingin berbohong padaku, seorang bangsawan? Bahkan orang biasa yang ada di jalanan tahu tentang seorang sword master yang menggunakan pedang sihir. Sangat aneh bila ia kalah oleh seseorang dengan job terlemah di kota para pemula, karena dia tampan… Itu yang diucapkan Yang Mulia… Saya pun berpikir seperti itu, karena dia tampan.”

“Woi, kalian berdua ngajak ribut?”

Aku memang tidak bisa dianggap tampan dan langsung membalas omongan wanita berkemeja putih yang daritadi ngomongin tampan mulu.

Ya, aku lupa kalau yang ada di hadapanku ini seorang bangsawan dan berbicara dengan bahasa kasarku.

Wanita berkemeja putih langsung terpancing setelah mendengar perkataanku.

“Tidak tahu diri! Beraninya kau berkata seperti itu di hadapan bangsawan!”

Dia berteriak sambil mengeluarkan pedang yang ada di pinggangnya.

Waduh, gawat!

“Mohon maafkan kami, kawan Saya telah mengatakan sesuatu yang tidak berkenan…! Dia adalah pria yang tidak tahu sopan santun, jadi Saya mohon ampunilah dia…! Pria ini benar-benar telah melakukan banyak jasa besar dan akan sangat tidak pantas bila Yang Mulia Iris yang mengundangnya makan malam lalumemberikan hukuman padanya…!”

Darkness menundukkan kepalanya, meminta maaf demi diriku.

Putri berbisik kepada wanita berkemeja putih setelah mendengarnya.

“…Yang Mulia Iris berkata bila ia tidak akan menanyakan lebih dalam masalah ini atas permintaan keluarga Dustiness yang telah memberikan kontribusi yang besar pada kerajaan. Namun, hal yang baru saja terjadi telah membuat perasaan Yang Mulia menjadi tidak enak. Hadiah untuk kisah petualangan yang kalian ceritakan akan tetap diberikan. Penipu dengan job terlemah itu sebaiknya pergi setelah menerima uangnya.”

Ahh, kata-katanya benar-benar menusuk!

Tapi, berkat Darkness aku bisa selamat.

Tetapi, ucapan mereka itu membuatku ingin membalasnya, seenaknya saja mereka marah karena aku membalas sindiran mereka.

Saat aku berpikir untuk segera pergi…

“Aww!? Hei Megumin, apa yang kamu…!”

Darkness tiba-tiba saja berteriak.

Sepertinya Megumin sedang melampiaskan amarahnya dengan menarik-narik kepang Darkness yang sebelumnya dia belai.

Selain Darkness yang menyadari situasi yang terjadi sekarang, aku pun mulai merasa tidak nyaman.

Di tim kami, Megumin mungkin orang yang paling menghargai kawannya.

Ketika kami melarikan diri dari kejaran Sylvia di Desa Klan Iblis Merah, saat dia mendengar musuh menghina kami, Megumin lebih memilih untuk menghadapi bos pasukan raja iblis.

Dia pernah berkata ‘kalau kamu dipukul oleh seseorang, maka yang harus kamu lakukan adalah memukul balik orang itu,’ Megumin yang paling mudah marah di antara kami tentu tidak bisa mengabaikan situasi ini…!

“……”

Megumin mengelus-elus kepang Darkness beberapa kali lagi.

Amarahnya sepertinya sudah mulai reda dan dia kembali menyantap hidangan yang ada.

Aku khawatir dia akan berkata ‘Bangsat, coba kau katakan hal itu lagi kalau berani’ atau semacamya, tapi syukurlah dia tidak mengatakannya.

Putri sama terkejutnya dengan wanita berkemeja putih, Darkness yang merasa bingung bertanya pada Megumin:

“…Megumin, hari ini kamu benar-benar tidak banyak bicara. Aku kira kamu akan membuat keributan…”

Megumin tanpa banyak bicara memasukan makanan ke dalam mulutnya, mengunyahnya lalu menelannya.

Dia akhirnya membuka mulutnya lalu berbicara dengan suara pelan:

“Aku tidak akan bisa menahan amarahku kalau aku hanya sendirian. Tapi, kalau aku sampai mengamuk di sini, aku akan membuat Darkness terkena masalah.”

Darkness hanya bisa memandangi Megumin yang sedang makan dengan tenangnya.

Setelah suasana menjadi hening selama beberapa saat…

Darkness tiba-tiba saja berdiri lalu berkata kepada Putri sambil menundukkan kepalanya:

“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Yang Mulia Iris. Tolong tarik kembali kata-kata Anda yang mengatakan bila pria ini adalah seorang penipu. Dia mungkin sedikit melebih-lebihkan ceritanya, tetapi dia sama sekali tidak berbohong. Dia mungkin memiliki job terlemah, tetapi dia adalah orang yang paling bisa diandalkan dalam situasi genting. Putri iris, bisakah Anda menarik kata-kata Anda sebelumnya dan meminta maaf padanya?”

Wanita berkemeja putih langsung marah setelah mendengar perkataan Darkness.

“Apa yang Anda katakan, Nona Dustiness!? Anda ingin Yang Mulia Iris memohon maaf pada seorang rakyat biasa…!?”

Putri lalu berdiri dan berbicara jelas dengan mulutnya sendiri.

Bahkan aku sendiri bisa mendengarnya.

“…Saya tidak akan minta maaf. Bila perkataannya bukanlah suatu kebohongan, maka Saya ingin pria itu menjelaskan bagaimana dia bisa menang melawan Mitsurugi-sama. Bila dia tidak bisa melakukan itu, maka pria ini hanya orang lemah yang hanya bisa bicara-!?”

Perkataan Putri terpotong.

Darkness menampar wajahnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Apa yang kau lakukan, Nona Dustiness!?”

Wanita berkemeja putih langsung marah, ia berdiri di depan Putri yang masih terdiam setelah dia ditampar. Wanita berkemeja putih menatap Darkness dengan penuh amarah.

“Ah! Tunggu, hentikan…!”

Putri terlambat mengatakannya.

Sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya, wanita berkemeja putih mengayunkan pedangnya pada Darkness…!

“!?”

Dengan bunyi tumpul, pedang itu menembus pergelangan Darkness.

Darah merah menciprati pakaian Putri, Darkness serta wanita berkemeja putih.

Wanita berkemeja putih masih terdiam.

Atau lebih tepatnya, dia tidak bisa bergerak.

Dia mungkin mengayunkan pedangnya ingin memotong pergelangan tangan Darkness.

Tapi ayunan itu hanya merobek kulit Darkness dan sedikit lapisan ototnya.

Tapi, Darkness tidak memperhatikan wajah terkejut wanita berkemeja putih, dia memutar wajahnya ke arah Putri.

Crusader tim kami memang tangguh.

Dia mungkin orang paling tangguh di negeri ini.

“Yang Mulia Iris, maafkan kelancangan saya. Tetapi, hal seperti itu bukanlah sesuatu yang seharusnya Anda katakan kepada seseorang yang sudah berjuang dengan sekuat tenaganya dan melakukan banyak jasa besar. Dia pun tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan bagaimana dia mengalahkan pengguna pedang sihir itu. Selain itu, meski ia tidak menjelaskannya tidak berarti Anda berhak mencela dia.”

Darkness menggunakan tangannya yang masih berdarah untuk membelai pipi Putri yang sebelumnya ia tampar, sambil berbicara dengan suara tenang dan lembut seakan dia sedang menceramahi seorang anak kecil.

Putri hanya bisa terdiam sambil menatap ke arah Darkness.

Aku pun berdiri.

“…Aku mengerti. Kawanku sudah mencoba untuk menutupi kekuranganku sampai sejauh ini, jadi aku seharusnya tidak merahasiakan hal ini dari kalian… Aku akan menceritakan bagaimana aku mengalahkan Mitsurugi. Tapi, biar aku katakan ini dulu, bagaimana aku mengalahkannya sama sekali tidak mengagumkan, ok?”

Aku berkata pada wanita berkemeja putih yang masih memasang wajah terkejut.

Dia kemudian mencoba kembali tenang, menyiapkan kembali pedangnya lalu mengambil ancang-ancang.

“Cukup, sudah cukup! Claire, aku baik-baik saja!”

Putri berteriak dengan nada memohon.

Aku tidak bisa merasakan hawa menekan dari Putri sekarang.

Kenapa tiba-tiba berubah jadi seperti ini?

Mungkin sifatnya tidak buruk?

“…Karena kalian sudah setuju, aku tidak keberatan dengan hal itu. Ceritakanlah, Kazuma. Kamu tidak akan berkata kalau kamu akan kalah ‘kan?”

Darkness memancingku dengan ucapannya sambil menutupi luka di tangannya dengan tangannya yang lain. Aku langsung merentangkan tanganku pada wanita berkemeja putih–

“Tentu saja, memangnya sudah berapa banyak lawan yang aku hadapi? Mulai dari pengguna pedang sihir sampai bos-bos pasukan raja iblis, bahkan benteng bergerak Destroyer! Aku selalu bertarung melawan musuh-musuh seperti itu! Terima ini, akan aku mulai dengan ‘steal’!”

Aku berteriak pada wanita berkemeja putih yang memperhatikanku dengan penuh waspada!

Aku akan mencuri pedangnya lalu…!

…Aku gagal mencuri pedangnya.

Aku meminta maaf padanya dengan suara pelan.

“Maaf. Ini… aku kembalikan…”

“…? Eh, ahh…! Hyaaa!?”

Dengan gugup aku menyerahkan celana dalam berwarna putih yang ada dalam genggaman tanganku pada kakak berkemeja putih itu yang langsung melepaskan pedangnya dari tangannya lalu memegangi bawah perutnya.

“Kamu itu…! Kenapa kamu selalu melakukan kesalahan di saat-saat penting!”

————————

Bagian Kesembilan

“Emm… Maafkan Saya karena sudah membuat semuanya menjadi seperti ini…”

Wanita berkemeja putih meminta maaf kepada kami.

Putri menyembunyikan wajahnya di belakang wanita berkemeja putih seperti ingin bersembunyi.

Darkness berkata pada wanita berkemeja putih sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa. Kami sendiri juga bersalah dalam hal ini. Seperti yang kamu lihat, lukanya sudah sembuh tanpa ada bekas, jadi kita lupakan saja masalah ini.”

Wajah wanita berkemeja putih menjadi semu merah dipenuhi rasa malu setelah melihatnya.

Mau itu Putri ataupun wanita berkemeja putih, mereka sepertinya tidak peduli dengan bagaimana aku menang melawan Mitsurugi.

“…Tapi, bisa menyembuhkan luka itu tanpa meninggalkan bekas luka dalam sekejap… Benar-benar seorang Arch Priest yang hebat.”

Ucap wanita berkemeja putih sambil melirik ke arah Aqua yang kepalanya terlungkup di atas meja.

Aku bingung kenapa dia dari tadi tidak bicara, rupanya dia mabuk setelah minum terlalu banyak dan selama ini dia sedang tidur.

Kami barusan membangunkannya dengan memukul kepalanya supaya dia bisa menyembuhkan luka Darkness, tapi dia langsung tidur lagi setelah melakukannya.

Dia hanya akan merusak suasana yang ada kalau bangun, jadi lebih baik membiarkan dia tetap tertidur.

Wanita berkemeja putih melanjutkan ucapannya:

“Selain itu, ketangguhan Nona Dustiness. Nona bermata merah ini nampaknya berasal dari Klan Iblis Merah… Dengan tim yang berisi anggota-anggota yang hebat seperti ini, pantas saja kalian semua bisa mengalahkan bos pasukan raja iblis… Eh, tapi Kazuma-dono…”

Entah kenapa, wanita berkemeja putih hanya menatapku dengan penuh keraguan.

Dia mungkin menyimpan dendam padaku karena aku mencuri celana dalamnya.

Pada saat itu, Putri yang sedari tadi nampak gelisah melirik ke arah wanita yang lain.

Wanita itu sejak dari tadi masih belum berkata sepatah kata pun, atau bahkan bergerak. Putri berbisik pada kakak mage yang bahkan aku sendiri lupa akan keberadaannya.

“Yang Mulia Iris, menurut Saya akan lebih baik bila Anda sendiri yang mengatakannya. Tidak apa-apa, selama ini Saya sudah memperhatikan, Kazuma-dono nampaknya tipe orang yang suka memanjakan gadis seperti Anda, Putri Iris.”

Ahh, seseorang yang belum pernah aku temui menuduhkan sebagai seorang pedhopil.

Putri mendekatiku sambil menundukkan kepalanya.

“…Saya minta maaf sudah menyebutmu seorang pembohong… Bila ada kesempatan, apa kamu akan menceritakan kisah petualanganmu lagi?”

Dia mengangkat sedikit kepalanya dengan penuh rasa malu.

“Dengan senang hati!”

“–Bila begitu, kami akan kembali ke kastil. Nona Dustiness dan semuanya. Maaf sudah merepotkan kalian.”

Ucap kakak mage itu pada kami.

Tidak seperti sebelumnya, Putri yang ada di sampingnya tersenyum riang, senyum yang pantas untuk gadis seumurannya.

“Kami seharusnya yang berterima kasih karena kalian sudah mau menerima jamuan kami yang tidak begitu bagus ini… Yang Mulia Iris, Saya akan membawakan berbagai macam kisah petualang saat Saya mengunjungi Anda nanti.”

Ucap Darkness dengan senyum lembut, Putri membalas senyum Darkness dengan sedikit malu.

Mereka berdua terlihat seperti seorang kakak yang baik kepada orang lain dan seorang adik yang mengagumi kakaknya.

Kakak mage melihat mereka dengan wajah tenang lalu mulai mengucapkan mantra sihir teleport.

…Bagus.

“Kerajaan akan menyimpan jasa-jasa besar kalian dalam buku sejarah kami. Kami pesembahkan kepada kalian ini sebagai pengakuan atas jasa kalian.”

Ucap wanita berkemeja putih sambil memberikan sebuah piagam dan sebuah kantung berisi… kepada Darkness, bukan kepadaku.

…Nggak apa kok!

“Saya merasa tersanjung… Putri Iris, jaga diri Anda baik-baik…!”

Darkness menerima benda-benda itu lalu tersenyum lembut, Megumin yang ada di sampingnya juga melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.

“Yang Mulia, suatu hari nanti aku akan pergi menemuimu dan membagikan kisah petualanganku.”

Selagi aku berkata seperti itu dan ingin melambai kepada Putri…

Kakak mage sudah selesai mengucapkan mantranya lalu Putri menarik tanganku.

“Apa maksud perkataanmu?”

Ekspresi bingung tergambar di wajah Putri.

“Teleport!”

Bersamaan dengan suara si kakak mage, aku, Putri dan yang lainnya langsung diselimuti oleh cahaya, aku pun menutup mataku.

Saat aku membuka mataku kembali…

Aku melihat sang Putri yang sedang berdiri di depan kastil yang begitu besar sambil tersenyum polos di depanku.

Saat Putri memegang tanganku, sepertinya aku juga ikut terbawa ke kastil bersama mereka.

“Putri Iris!?”

Wanita berkemeja putih dan kakak mage berteriak bersamaan.

“Kamu janji kalau kamu akan menceritakan lebih banyak kisah petualanganmu ‘kan?”

Ucap Putri dengan senyum di wajahnya.

Orang-orang besar kalangan atas memang hebat yah– Bangsawan itu emang kagak peduli sama orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s